Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2018

Untuk Penista

@mahadewi

Jika kau tak tau syariat Islam, maka mengkajilah. Bukan melecehkan ajarannya dan membandingkannya pada hal tak sepandan.

Jika kau tak paham agamamu, pergilah mendalami maka kau akan lebih mudah menjaga lisanmu dari mencela.

Perjelaslah jika kau memang belum mengerti kebenaran. Jangan pernah berpaling dari kebenaran.

Hidup dengan jasad hanya beritung hari. Sementara mati itu pasti.
Apalah arti dunia jika hidup hanya sebagai penista.

Jasad akan rusak di alam kubur. Tapi ruh akan menghadap Allah dengan pembuktian.
Istighfarlah selagi masih ada malam nanti
Tobatlah selagi oksigen masih terasa wangi.

Untuk para penista agama, kalian bisa berdalih tanpa salah. Tapi peradilan Allah takkan mampu kalian skenario.

Yang kalian lecehkan adalah umat terbaik. Manusia terbaik bagi kaumnya.
Dunia pun takkan rela mereka dilecehkan.
Ingat itu!

Jumat, 23 Maret 2018

Hanya Allah Tempat Bergantung

Kecewa pada manusia, itu mah biasa.
Manusia tempat salah dan lupa. Tapi manusia bukan tempatnya dipersalahkan dan dilupakan.😊

Memiliki kepercayaan pada oranglain itu baik, tapi jika kepercayaan itu diingkari, dikhianati apalah arti kebaikan jika sepihak menuai duri. Tidak terusuk saat ini tapi suatu saat pasti akan ada yang terluka.😡

Merasakan kebahagiaan bersama itu baik, bisa berbagi banyak maslahat dalam taat. Tapi alangkah ruginya jika kau bagikan kepada orang yang taat saja tidak, bahkan justru menjurumuskanmu dalam maksiat. Buang jauh aja deh...😠

Berbagi cerita pada sahabat yang dekat itu meringankan. Tapi apa jadinya jika sahabat itu tak mampu kau percayai, ceritamu berkembang layaknya fiksi melesat di pasar bebas untuk dikonsumsi orang lain. Huffft!

Kecewa pada manusia itu biasa. Tapi jika kau gantungan segalanya pada Allah takkan ada kecewa dan luka. Kau akan menikmati khalwatmu hanya padaNya. Lukamu Dia gantikan dengan tambahan nikmatnya ibadah. Sedihmu Dia gantikan dengan bahagianya pahala ibadah. Allah itulah pengobat luka hatimu, penghilang laramu dan sahabat setiamu.😭😭

Sedih, senang, kagum, kecewa apapun yang kau rasakan larikan semuanya pada Allah Subhanahu wa ta'ala...Rabbul 'izzati....

Mencinta paling indah pada Rabbmu..tak bisa tergntikan oleh siapapun😍😍😍😍

Rabu, 24 Agustus 2016

Refleksi Hati

Banyak yang bicara persatuan, sementara tangan dan kaki mereka memecahkan pemahaman umat islam dengan masalah cabang.

Banyak yang bicara 'guyup rukun', tapi mata mereka buta bahwa tetangga mereka ada yang kelaparan.

Banyak yang mengaku nasionalis, patriotis tapi negeri mereka di'jarah' asing mereka diam.

Banyak yang bicara cukup menyelamatkan diri dan keluarga mereka saja, tapi mereka tidak sadar sikapnya itu telah melanggengkan penjajahan sistemik oleh musuh Allah.

Banyak mencela orang yang hidupnya tak mampu terbeli dengan materi karena semata berjuang tanpa pamrih membela agama Allah, sementara mereka para pencela itu tak mampu hidup tanpa belas kasihan 'uang penjajah'.

Ini masalah kita, sadari bahwa hidup "enak" hari ini tak berarti apa-apa jika kita tidak memahami bahwa dunia hanya medan perjuangan, bukan surga kenikmatan.
Beban umat ini, terbebankan pula di pundak kita.

Apakah kita mampu memperjuangkan dan menangisi kondisi umat ini, sementara kehidupan dunia yang menipu ini masih menjadi orientasi hidup kita?

Jumat, 04 Maret 2016

Refleksi Diri

Simplifikasi tidak perlu emosi.

Banyaknya media sosial dengan beragam aplikasi saat ini secara tidak langsung melahirkan para penulis, pujangga bahkan politisi dadakan.

Segala hal,baik rasa, karya bahkan tangisan semua bernada tulisan yang kerap memenuhi layar kaca smartphone kita. Tanpa bisa dipahami terkadang, kenapa bisa dengan mudahnya seseorang membagi semua perasaan, pikiran bahkan kemarahanya di aplikasi yang bisa diakses semua orang.

Meski demikian, tidak ada yang salah jika kita memikirkan dan mengkaitkannya dengan hak individu. Yang pasti sebenarnya apakah perlu semua itu dilakukan?
Terbuka.
Menjadi diri mampu dibaca lalu dimengerti orang lain, mungkin baik. Tapi realita kita hidup saat ini, tak berlebihan kan saya katakan bahwa kita bisa diawasi bahkan oleh penjahat sekalipun. Berapa banyak kasus kriminal diawali dari media sosial? Hoho ...tak terhitung.
Berlepas dari benar atau salahnya setiap status, membuka segala informasi pribadi pada orang lain baik asing atau tidak tidaklah hal yang baik. Itu tidak tepat. Bahkan jika kita sedekah saja sebaiknya tangan kiri tidak mengetahuinya dari tangan kanan..betul kan?

Menjadi pribadi yang proporsional tanpa harus menjadi superspesial meski beragam cara menjadi legal jauh lebih baik.
Tidak ada manusia yang sempurna. Begitulah adanya.
Tapi karena manusia merasa belum sempurna maka dia tidak akan berhenti meraih upaya menuju kesempurnaan. Tanpa banyak umbar kekuatan, seorang penulis cukup eksis hanya dengan karyanya. Tanpa umbar senyum seorang ibu akan meraih sukses jika anaknya mampu membawakan kebahagiaan akhirat untuknya.  Tanpa umbar nilai seorang guru cerdas membuktikannya pada anak didiknya. Begitu pula seharusnya kita. Tanpa kata, prestasi seharusnya sudah mampu dibaca, tanpa suara kebahagiaan itu seharusnya sudah mampu terdengar. Tanpa tangis seharusnya air mata itu sudah meredam. Tanpa kata, kekuatan akhirnya teralur tanpa menciptakan riak gaduh cemoohan.

Hidup itu sederhana. Tinggal jalani, ujian diselesaikan, aturan dipakai dan kelemahan diakui, kekuatan disyukuri.
Simplifikasi masalah bukan berarti meningggalkan sisi kekuatan agar masalah selesai dengan sendirinya. Bukan berarti menganggap enteg setiap laku dan sikap penyelesaian.
Makanya simplifikasi masalah pakai otak bukan dengan emosi.

#RefleksiDiri

Kamis, 25 Februari 2016

Lirik Kekecewaan

💰Solusi kapitalisme dalam menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya sendiri akhirnya berujung pada solusi parsial.

👦Ibarat anak sakit komplikasi, sebab awalnya adalah karena makanan yang dimakan itu racun, membawa penyakit beranekaragam. Pusing diobat khusus pusing, sakit perut diobar sendiri dll. Hasil akhirnya apa? Makin menambah beban terhadap penderita.

🌎Begitu pula realita sistem saat ini, jika tidak diketahui akar masalah munculnya problem saat ini yang ada hanya solusi parsial yang hanya akan menambah beban rakyat.

❓Kenapa rakyat sebagai penderita? Karena dalam reinventing goverment rakyat sebisa mungkin dimandirikan dalam urusan mereka. Dan pemerintah hanya fasilitator dan regulayor. Jika perlu biarkan ada kolaborasi dengan pihak asing bahkan sampai level hulu sekalipun.

💰Faktanya begini ini. Sistem yang membuarkan usaha rakyat berkompetisi dngan produksi negara kapitalis.
Sistem yang membiarkan rakyatnya hanya sebagai konsumen atas masuknya jutaan barang impor.
Sistem yang merelakan asing memiliki petak-petak tanah di negeri ini. Alih-alih menjaga wilayah dengan dana desa , ujungnya negara memfasilitasi asing berkecimpung dalam pembangunan desa ibarat jaman kolonialisme. Ada penjajah dan para centeng.

🌆Tidak heran solusi masalah sampah juga dibebankan kepada rakyat. Bukan kepada penciptaan produksi ramah lingkungan. Sementara perusahaan pemilik kapital, MNC akan terus memproduksi tanpa peduli kesehatan bahkan hingga limbahnya.

🌴Banyak asap pabrik, rakyat diminta sukseskan 1Milyar pohon, taman kota, reboisasi. Sementara pabrik-pabrik berdiri di tengaj pemukiman warga dibiarkan. Toh nanti rakyat yang bakalan menyingkir perlahan.

✔Jangan salahkan setiap wacana jika dalam sistem buatan manusia ini rentan akan kelemahan.
✔Kenapa masih keukeuh bertahan pada kapitalisme, sedang AS sendiri juga selalu memikirkan cara bagaimana mereka menyembuhkan diri mereka sendiri:  memerangi, membunuhi, memfitnah bahkan menjarah kekayaan negara lain atas nama kerjasama komprehe sif dan lain sebagainya.

❗❗Lebih baik pikirkan dulu jika hanya bisa melihat pada satu arah. Karena bisa jadi orang lain memiliki pandangan lebih luas dan solutif atas masalah negeri ini.

📌 Untukmu Saudaraku

Senin, 01 Februari 2016

Tak Bisa Dibandingkan

Realitas pemimpin memanggul bahan makanan untuk warganya yang miskin dalam era kekhalifahan Umar bin Khathab dengan era kapitalis saat ini jelas tidak bisa dibandingkan.

Penerapan aturan negara khilafah yang berdasarkan hukum Allah, menerapkan syariatNya dalam berbagai aspek, memberikan pelayanan kepada rakyat, tidak menggunakan sistem pengelolaan kekayaan yang memperkaya diri penguasa. Karena kekuasaan sejatinya adalah amanah bukan jalan mencari kekayaan dan keuntungan pribadi atau pihak tertentu.

Umar menangis tatkala amanah kepemimpinan dibebankan di pundaknga karena ketakutannya jika lalai maka siksa baginya amatlah pedih.

Umar memanggul gandum dan daging untuk kelalaian petugas negara dalam masalah distribusi kekayaan, dimana negara memberikan hak kebutuhan rakyat dari kas keuangan negara. Bukan mengambil pajak dari kekayaan rakyatnya apalagi dari kemiskinan rakyatnya.

Umat khawatir kelalaiannya akan membawanya pada siksa neraka, bukan sebagai pencitraan karena sistem yang ada saat itu sangatlah dipenuhi keadilan.

Tapi bagaimana jika dalam sistem kapitalis, seorang pemimpin memberi sekantung beras karena ada rakyatnya yang miskin?
Hal ini justru makin menunjukkan tidak POLITISnya pemimpin.
Realita kapitalisme memiskinkan rakyat, tidak hanya 1%, 2% tapi memiskinkan secara sistematis dan dominasi kapital nampak makin terbuka. Tirani minoritas atas kekayaan rakyat.

Jangan bandingkan implementasi syariat dalam kekhilafahan dengan implementasi hukum sekuler dalam demokrasi.
Karena hal ini hanya makin menunjukkan  ketidakpahaman akan realita pemimpin, kekuasaan dan islam.

#CatatanMalam

Minggu, 31 Januari 2016

Hati-Hati dengan Lisan

Berhati-hatilah wahai lisan, bisa jadi lisan akan menghantarkan pada kemurkaan Allah.
Apalagi lisan yang mengutuk orang-orang yang memperjuangkan tegaknya agama Allah di muka bumi.
Berhati-hatilah wahai lisan, Allah Ta’ala berfirman, ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18).
Lisan penuh kebencian, fitnah, kedustaan dan propaganda untuk memusuhi islam semua dicatat sebagai amal kalian.
Berhati-hatilah wahai lisan, karena lisan bisa membawamu pada kesesatan atau kebaikan. Jadikan berpikir sebagai awal sebelum berucap.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.’ (HR. Bukhari dan Muslim).
Berhati-hatilah wahai lisan, apalagi lisan yang dipenuhi dengan tipu daya, makar dan propaganda untuk memusuhi islam dan perjuangan islam kafah.
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Ali Imran: 120)
"Sesungguhnya dari dulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur berbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.” (Q.S. At-Taubah: 48)
Maka mudah bagi Allah mencerai beraikan persatuan orang-orang yang memusuhi islam, dakwah islam dan pengembannya.
"Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar." [Ali Imran : 54]

Minggu, 27 Desember 2015

Kehilangan Itu Biasa, Nak!

Ada yang tidak biasa di pagi hari ini. Suasana rumah yang biasanya hangat, agak mendung karena suara tangisan lembut terdengar di sudut rumah.
Pagi ini, 2 peliharaan anakku hilang. Wenny dan Ecky. Duo anak kucing yang selalu jadi motivasi anak-anak bermain di luar tiba-iba tidak nampak batang hidungnya sejak semalam. Otomatis, pagi ini rumah dipenuhi nuansa melankolis.

Memang, dengan peliharaan anak-anak belajar bagaimana memenuhi tuntutan naluri berkasih sayangnya. Mereka berlatih menyayangi, bertanggingjawab bahkan berlatih bagaimana menjadi makhluq berakal: lahir, tumbuh, berkembang, bertanggungjawab atas pilihan.

Setiap manusia memang terlahir dengan potensi akal dan naluri-naluri(Gharaiz). Dan potensi naluri salah satunya adalah Naluri nau'(naluri berkasih sayang).
Jika seorang dewasa, memenuhi naluri ini terhadap pasangan suami-istri. Tapi joka seorang anak, bukan hal yang wajar jika nalurinya didominasi pada lawan jenis. Karena seharusnya nalurinya dominan kepada orang tuanya terutama ibunya, adiknya, kakaknya,keluarganya, bahkan dengan binatang peliharaan termasuk bisa diarahkan sebagai bentuk pemenuhannya.
Oleh karena itu, tugas orang tua sebenarnya untuk menjauhkan munculnya tuntutan naluri kasih sayang pada anak kepada lawan jenis. Karena belumlah tepat waktu untuk bisa menempatkan naluri pada lawan jenis.

Orang tua bertanggungjawab,jika anak salah menempatkan naluri kasihsayang justu kepada lawan jenis. Karena naluri kasih sayang terhadap lawan jenis sebenarnya hanya diperunukkan untuk pasangan suami istri semata.

Bayangkan jika peradaban manusia saat ini didominasi pada naluri kasih sayang pada lawan jenis, baik orang dewasa, pelajar, maupun anak-anak. Maka jadilah kerusakan demi kerusakan terjadi. Produktifitas berkurang, dominasi kehidupan hanya pada seksualitas dan hubungan lawan jenis ada dalam setiap bentuk interaksi.

Peradaban pada akhirnya menghadapi dilema kerusakan. Anak-anak sudah kenal rasa tertarik pada lawan jenis, pelajar tidak ptoduktif, suami-istri saling selingkuh, bahlan prang tua banyak yang dilupakan anak mereka.

Islam merupakan pengaturan terbaik bagi manusia. Indahnya islam tak terkalahkan dalam sistem kehidupan manapun.

Minggu, 15 November 2015

Kemane Aje Elu Pade? (Ekspresi untuk Bom Paris)

Bukan sembarang latah, harusnya mikir dulu sebelum ikutan arus.

Biar dikata gaul, status ikutan trending topic ala twitter.
Biar dikata care, #RIP atau ucapan belasungkawa dimana2 karena dunia sedang ikut berduka.

Kemana aja elu pade?
Palestina udah puluhan tahun dibombardir, Suriah udah lebih dari 200.000 nyawa melayang, ribuan muslim Rohingya hidup di laut tanpa kewarganegaraan...
Kemane kepedulian elu2 pade?

Kabut asap di negeri sendiri aja berat utk sekedar dijadikan bencana nasional,
Tapi begitu negeri lain ada bom, pernyataan sikap sehari langsung keluar.
Kemane aje elu pade?

Ini dia masalahnya, menjadi negara mandiri itu penting. Penting banget.
Biar penguasa sekalian warganya ngga kaya bunglon, orang bingung, latah dan malu2in.

Banyakin mikir, peduli dan tanggung jawab aja ga cukup. Tapi juga butuh "TAAT".

Lebaynya Media

Ketika media terasa lebay, aroma kebusukan mulai nampak.

Perang opini, penyesatan opini hingga pencitraburukan  bercampur menjadi satu.

Tokoh2 penjaga sistem dimunculkan, berita diulang2, hingga opini masyarakat pun disetir.

Seolah dunia dijejali hanya ada satu berita, hanya satu peristiwa.

Gempar!
Karena dibesarkan.
Meluas opininya!
Karena dilebarkan pemberitaannya.
Seolah dunia menangis.
Itulah tujuannya.

Tapi mereka tidak adil pada kemanusiaan.
Mereka menutup mata pada negeri muslim yang dibantai negara imperialis.
Mereka diam ketika anak2 & wanita menjadi korban perang.
Dan mereka acuh tiap kali Islam dilecehkan.

Dan hebatnya...mereka mampu mempengaruhi perasaan umat Islam, membuat air mata umat nabi Muhammad menangis karena kemanusiaan bukan karena aqidah.

Ekspresi Kemarahan Teror Paris

Awas pengalihan isu!

Disaat isu disintegrasi Papua menghangat dan dukungan dari AS pun kian merapat.

Disaat ada wacana kenaikan tarif listrik, BBM, harga beras.

Disaat negeri ini dibombardir paket kebijakan ekonomi jilid 1hingga 7 yang pro neolib.

Disaat dewan mempersoalkan dana hutang 2000T di tangan pemerintah mau dikemanakan.

Disaat impor beras, sapi dan lainnya dari luar negeri berdatangan ke negeri ini.

Disaat pro kontra hasil kunjungan presiden ke AS dan membawa proyek USD 20 M lebih.

Disaat pro kontra ketergabungan Indonesia kedalam TPP (Trans Pasific Patnership).

Disaat APEC menjadi ladang strategis untuk menjual negeri.

Disaat bencana marak dan datang bertubi-tubi.

Disaat para buruh, mahasiswa dan teriakan lantang rakyat menuntut perubahan.

Isu terorisme tiba-tiba menjadi headline di semua media, menjadi fokus diskusi para politisi, pejabat hingga tokoh masyarakat.

Dunia seolah satu suara, dan semua seakan menutupi luka yang tengah mendera negeri ini.

Negeri pesakitan yang dirinya telah terjual.
Kaya karena pajak.
Terlihat gagah karena hutang.
Dan terhormat karena telah menjadi santapan imperialis .

Dunia menempatkan negeri ini sebagai surga mereka.
Di tengah kemiskinan dan krisis global, negeri murah hati ini membuka hati, mempersilahkan tamu asing meraup untung dinegeri ini.
Apakah negeri ini untung?
Tentu.
Untung sekali.
Pinjaman hutang investasi mengalir deras.
Penghormatan dan pujian dari dunia mewangi di pemberitaan2 internasional.
Apakah harus berbangga???

Sekali lagi.
Negeri pesakitan menganggap sakit jiwa2 yang mengingatkan akan kekeliruan.
Memuhasabah akan kesalahan.
Menunjuki arah agar tak menyimpang.

Tak mudah menjadi mayoritas.
Karena tirani minoritas kini menjadi tren baru atas nama HAM.

Kamis, 13 Agustus 2015

Untuk Sebuah Peran

Menikmati peran, laksana menikmati hidangan di atas meja. Gambaran yang asimetris.

Tidak mudah setiap peran dijalani, tanpa ada dedikasi pada syariat atau pada sudut pandang khas. Meski sejatinya peran itupun lahir untuk identitas ketundukan.

Menjadi pelaksana peran layaknya pekerja rodi yang dalam kondisi apapun peran itu mesti dijalankan. Apapun kondisinya. Susah, senang, sakit, sehat bahkan terluka parah sekalipun.
Itulah tanggung jawab. Itulah suatu dedikasi tanpa batas.

Tinggal masalahnya, mampukan manusia memiliki cara pandang seperti itu memahami perannya? Karena step awal yang seharusnya dilakukan adalah belajar memahami peran dan berlatih untuk sebuah dedikasi.

Kita bisa, jika kita yakin dan berusaha.

14Agustus15
🌷De.Umsyah

Kontemplasi Kemerdekaan

👉✌Bukan anti pada hari KEMERDEKAAN, hanya perlu merevisi pemahaman saja.

Perayaan kemerdekaan negeri ini, seringkali menjadi bentuk pelegalan aktivitas keharaman. Ikhtilat/ campur baur dalam acara karnaval, festival-festival, hingga perlombaan yang tidak ada hubungannya dengan esensi kemerdekaan.

Kita lebih berbangga merasakan perayaan daripada sibuk mikir mau berbuat apa untuk negara ini.

Atau kita sibuk kibarkan bendera dibanding menengok seberapa banyak bendera asing bercokol di negeri ini.

Kita lebih sibuk upacara sementara 'tamu luar negeri' menjarah negeri ini pun kita sambut dengan suka cita.

Kita lebih repot mempersiapkan atribut balap karung sementara di semua lini kita tertinggal, rupiah melemah, harga daging tidak masuk akal, harga cabe mahal dan semuanya itu lupa kita pikirkan.

Kita lebih suka mengeluh menerima daripada keras memperjuangkan perubahan.

Kita lebih suka menghujat kemiskinan kita daripada mencari solusi untuk semua saudara kita yang kelaparan.

Kita lebih sering mengatakan manut, nrimo saja daripada kritis menelaah kenapa masalah menimpa kita bertubi-tubi.

Kita lebih memilih diam dan pasif daripada berjalan kearah penguasa sang pembuat aturan negeri ini dan memuhasabahinya.

Kita lebih suka nonton penangkapan KPK atas pejabat korup daripada kita datang ke dewan dan menyampaikan keluhan rakyat kita.

Kita lebih suka merasakan harga mahal daripada kita sibuk mencari tau kenapa semua harga barang di negeri ini merangkak naik.

Ada apa dengan KITA?
Jika dikatakan MERDEKA, kenapa mata, kaki, lidah, tangan dan semua organ kita dikendalikan pihak lain bukan diri kita sendiri.

#CatatanPagi

14Agt15
🌷De.Umsyah

Sabtu, 25 Juli 2015

Trust Me It Works!

Trust Me It Works! 😁

Jadi ikutan iklan deh.
Tiba-tiba aja, pagi ini menghitung berapa akun di media sosial yang saya kelola. 18!! Hehe
Dan semua dikelola di satu perangkat. Dan dikelola tiap hari. Yah, meski belum semua tulisan sendiri tapi انشا الله  semua bermanfaat untuk dibaca.
Dan memang semua usaha diawali dari sebuah keyakinan bahwa yang dilakukan membawa manfaat terutama dalam perjuangan Islam, maka hasil akhirnya akan membawa keberkahan.
Tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk update status disemua akun. Tidak perlu juga duduk berlama-lama menghadap handphone untuk menghasilkan suatu karya. Dan tidak perlu pula banyak gadget berkualitas tinggi. Semua diawali dari kemampuan dan kemauan. Jika dijalani dan ikhlas semata demi perjuangan. Trust me, it works!

Semua ternyata berjalan lancar da الله juga yang memperlancar setiap usaha kita.
Memang sih, tiap waktu jadi dirasa lebih produktif karena harus selalu memikirkan inspirasi apa yang bisa dituangkan dalam tulisan.

Dan saya  sebenarnya orang yang dominan bicara, dan tantangan terbesar saya adalah menulis. Sehingga medsos bagi saya adalah sebuah tantangan terbesar dalam hidup. Dan saya bercita-cita harus mampu menundukkan dunia jurnalistik. Semoga berhasil.

Dan pasti di suatu masa, ketika waktu telah berlalu, saya akan membaca ulang tulisan-tulisan ini dengan senyum sumringah. Betapa waktu mampu mengubah semuanya. Dan pastinya ada usaha yang tak terhenti dengan sedikit dan bertahapnya ujian.

Yakin, pasti mampu dan percaya pada diri adalah kunci untuk berusaha. Dan berusaha dan berdoa adalah kunci sebuah keberhasilan dari tujuan.
Trust me it works!

Let's try and pray
Do the best!

26 Juli 2015
9.00
🍁Dewi Ummu Syahidah

PRIHATIN UNTUK CILACAPKU

PRIHATIN UNTUK CILACAPKU

Mendengar cerita seorang teman tentang perkembangan migrasi warga Tionghoa ke Indonesia membuat hati miris.
Dia menceritakan, di salah satu kecamatan di Cilacap sudah mulai dirasakan adanya geliat warga asing disana.
Dimana kecamatan ini memang menjadi tempat PLTU yang sedang dalam proses penggarapan.
Beberapa waktu lalu, ketika pemberitaan di medsos ramai tentang masuknya puluhan ribu TKC (Tenaga Kerja Cina) *istilah saya sendiri, secara fakta di kecamatan teman saya malah sudah benar dirasakan kehadiran 'warga baru'.
Dan yang menjadi sorotan saya adalah dengan cerita teman saya ini, bahwa sejak datangnya TKC , warga diiming-imingi untuk membangun kost atau rumah sewaan yang TKC ini siap membayar dengan 3-10kali lipat harga sewa biasanya. Bahkan ada toko kelontong pun juga disarankan untuk diperbaiki bahkan di pasang AC. Demi pelayanan yang memuaskan 'warga asing ini'.
Fasilitas hiburan pun di Cilacap kian hari kian marak. Pembangunan tempat karaoke, diskotik, lokalisasi pelacuran,cafe seolah sesuatu yang juga disiapkan sebagai fasilitas seiring masuknya TKC. Bahkan proyek pembangunan tempat hiburan malam dengan fasilitas 1 kamar 1 jam dengan harga lebih dari satu juta pun di promosikan dengan baliho besar di pusat kota.
Siapa yang sanggup membayar harga itu? apa warga asli Cilacap yang gajinya hanya 1,2jt sebulannya bahkan banyak yang dibawah UMK pendapatannya?atau para nelayan yang untuk mencari ikan tiap harinya juga harus bingung memikirkan mahalnya biaya BBM yang naik terus?
Belum lagi risihnya mata melihat salah satu tempat hiburan malam yang berjajar dengan TK IT dan masjid di pusat kota. Bahkan hingga hari ini juga dengan nama yang sama, tempat hiburan malam ini sedang berjuang dalam pembebasan lahan baru di dekat terminal Cilacap yang nantinya pembangunannya akan membelakangi Ma'had satu-satunya di Cilacap. Miris!
Belum lagi dengan cerita tentang gaji bulanan mereka berkali lipat lebih besar dari warga kita yang bekerja di perusahaan yang sama, hal ini benar adanya.
Katakanlah warga kita diberi gaji 3 juta sebulan saja sudah lumayan, ternyata gaji TKC ini bisa mencapai 18-30juta sebulan.
Ada yang membenarkan hal ini, dengan alasan mereka kesini dengan keterampilan dan juga ongkos transport yang mahal.
Ok lah bisa diterima alasannya. Tapi jangan lupa, warga kita bahkan Cilacap sendiri masih banyak pengangguran disini, ekonomi masyarakat lemah. Dan ujung semua ini akhirnya menimbulkan kesenjangan yang makin lebar antara warga asli dengan pendatang.
Hal ini hanya sebagian cerita yang pastinya secara realita di lapangan masalah yang muncul lebih besar lagi.
Kebijakan pemerintah menerima pinjaman hutang infrastruktur dan kebijakan memperluas masuknya investasi tanpa pertimbangan maslahat ummat telah merugikan negeri ini.
Bagaimana tidak?
Saat ini proyek betonisasi jalan masih berlangsung di Cilacap. Dan juga inslfrastruktur lainnya juga dalam proses penggarapan. Tapi sejatinya pembangunan disiapkan hanya untuk memberi fasilitas pada para investor sebagai syarat yang harus dipenuhi.
Bagaimana hal ini jika dikaitkan dengan pengaturan urusan rakyat?
Saya jadi ingat beberapa tahun lalu,ketika Cilacap mash sedikit dilirik para investor asing, korban akibat jalan rusak jumlahnya ratusan. Bahkan perbaikan pun minim dilakukan.
Bandingkan dengan sekarang. Semua pembangunan infrastruktur sangat cepat dengan alasan sebagai penunjang masuknya investasi.
Ini hal yang sulit diterima.
Jalan,fasilitas lainnya sebenarnya adalah hak rakyat,hak warga kenapa hal ini bukan jadi alasannya?
Rakyat diminta bersorak dan bertepuk tangan dengan kebijakan ini, kita diminta ramah dengan 'warga asing' meski sejatinya kita terancam. Memungkinkan kedepan tanah kita dibeli mereka, rumah kita digusur dengan alasan pelebaran infrastruktur dll.
Padahal hal ini sangatlah merugikan.
Kenapa kita masih menerapkan kebijakan kapitalis ini, padahal kita sebenarnya sudah merasakan himpitan yang sangat menyiksa ini.
Apa untungnya untuk rakyat?
Jika pun ada untung, jangan tutup mata karena sejatinya kerugian kita jauh lebih besar.
‪#‎CatatanPagi‬
‪#‎IslamIsSolution‬


tulisan d FB tanggal 12 Juni 22015
Ummu Syahidah

Jumat, 24 Juli 2015

H-1 Hari Raya

Telah Terbiasa
Sejak kecil, yang namanya hari raya, secara umum, kita terbiasa hanya dengan satu patokan: "kalender". Bahkan setahun sebelum, hari raya terbiasa dijadikan sebagai agenda tersendiri yang direncanakan, mengingat ketetapan itu dikenal secara nasional.
Hari raya umat Islam, yang seharusnya berpatokan pada kalender hijriyah yang menggunakan standar peredaran bulan, justru sudah banyak
ditinggalkan. Tapi terkadang banyak dilupakan bahwa penetapan kalender hijriyah semestinya dilihat dari peredaran bulan. Sekalipun dengan teknologi yang ada saat ini bisa diprediksi. Tapi hal in semestinya hanya prediksi saja.
Apalagi jika kita menilik pada landasan dalil yang dipakai.
Ibnu Hajar menyebutkan hadits dalam Bulughul Marom, yaitu hadits no. 652 dan 653. Haditsnya adalah sebagai berikut:
وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا [ قَالَ ]: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: – إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
وَلِمُسْلِمٍ: – فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا [ لَهُ ] . ثَلَاثِينَ  .
وَلِلْبُخَارِيِّ: – فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ.
وَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – – فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, makaberhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih).
Dalil ini menjelaskan bagaimana seharusnya waktu mulainya seseorang berpuasa dan berhari raya. Hanya saja secara umum banyak yang belum terbiasa dengan patokan melihat bulan yang dinanti di akhir bulan Ramadhan. Kebanyakan belum terbiasa di akhir malam hari ke 29 Ramadhan menanti kabar dari saudara muslim kita yang melihat hilal secara langsung, baik dari daerah kita maupun wilayah lainnya.
Tapi kebanyakan dari kita malah memilih sibuk menyiapkan pakaian baru untuk hari raya, makanan dan kue-kue, bahkan sibuk dengan ceremonial tahunan karena jadwal kalender sudah ditentukan.
Kebanyakan kita telah terbiasa untuk menghabiskan waktu di pasar-pasar untuk menyiapkan ketupat lebaran ketimbang memasang telinga untuk informasi awal bulan baru.
Kebanyakan kita telah terbiasa menyibukkan diri dengan rutinitas semata, tanpa mendahulukan dalil dan metodologi mana dalam penetapan Syawal yang akan diikuti.
Karena telah terbiasa, seharusnya tidaklah sulit merubahnya. Karena merubah kebiasaan hanya perlu mengubahnya saja.
Biasakan bicara dalil dan ikuti dalil syariat bila beribadah, pasti selamat.
Biasakan mencintai ilmu, karena ilmu akan menjadi penuntun dalam kebutaan.
Biasakan berdiskusi bukan hanya taqlid buta, karena diskusi akan menajamkan pemahaman.
Dan yang terpenting, jangan jadikan kebiasaan menjadi dalil kemalasan untuk menjadi lebih baik.
Yuk nanti malam hingga esok pagi kita berburu informasi kabar hilal. (⌒▽⌒)
*Catatan pagi akhir Ramadhan 1436 H
@Dewi Ummu Syahidah