Berkata Al-Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah:
ㅤ
ﺇﺫا اﺑﺘﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪﻩ ﺑﺸﻲء ﻣﻦ ﺃﻧﻮاﻉ اﻟﺒﻼﻳﺎ ﻭاﻟﻤﺤﻦ ﻓﺈﻥ ﺭﺩﻩ ﺫﻟﻚ اﻻﺑﺘﻼء ﻭاﻟﻤﺤﻦ ﺇﻟﻰ ﺭﺑﻪ ﻭﺟﻤﻌﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻃﺮﺣﻪ ﺑﺒﺎﺑﻪ ﻓﻬﻮ ﻋﻼﻣﺔ ﺳﻌﺎﺩﺗﻪ ﻭﺇﺭاﺩﺓ اﻟﺨﻴﺮ ﺑﻪ.
ㅤ
"Jika Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai macam bencana dan cobaan; jika ia kembalikan bencana dan cobaan tersebut kepada Rabbnya, bertekad kuat (untuk kembali pada-Nya), dan mengetuk pintu-Nya, maka itu adalah tanda kebahagiaannya dan tanda (Allah) menginginkan kebaikan kepadanya."
📚Thariq Al-Hijratain : 163
Rabu, 31 Juli 2019
MERAIH KEBAHAGIAAN KETIKA DILANDA MUSIBAH
BERPIKIR SEBELUM BERUCAP DAN BERAMAL
Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."
📚QS. Al-Isra’: 36
Imam Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah, ia pernah mengatakan,
مَا تَكَلَّمْتُ بِكَلِمَةٍ, وَلَا فَعَلْتُ فِعْلًا, إِلَّا أَعْدَدْتُ لِذَلِكَ جَوَابًا بَيْنَ يَدَيْ اللهِ تَعَالى
"Tidaklah aku mengucapkan suatu kata dan tidaklah aku melakukan suatu perbuatan melainkan aku persiapkan untuk hal itu jawabannya untuk nanti dihadapan Allah ta’ala."
📚Fathul Mughits: 1/167
BENTUK PENGABULAN DOA
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
“Tidaklah seorang muslim berdo’a dengan sebuah do’a yang tidak dosa dan tidak pula do’a memutus silaturahmi melainkan akan diberikan satu dari tiga bentuk: bisa jadi disegerakan do’a tersebut di dunia, atau Allah simpan baginya untuk di akhirat, atau Allah hindarkan dirinya dari keburukan yang setara dengan do’anya itu.”
📚HR. Ahmad: 17/213
NIKMAT RASA AMAN DIJAGA DALAM ISLAM
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِيْ سِرْبِهِ، مُعَافَى فِيْ جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ، فَكَأنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa yang hidup secara aman perjalanannya, sehat badannya, memiliki makanan setiap harinya, maka seakan-akan terkumpul padanya nikmat dunia".
📚HR. Timidzi 2346, Ibnu Majah 4141. Lihat Shohihul Jami' 6042
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
"Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti saudara muslim lainnya".
📚HR. Abu Dawud 5004 dan Ahmad 23064 dengan sanad shohih
مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّه
"Barangsiapa yang mengisyaratkan kepada saudaranya dengan besi maka Malaikat akan melaknatnya sehingga dia meninggalkannya, sekalipun saudara satu bapak dan ibunya."
📚HR. Muslim: 2616
KEWAJIBAN SEORANG MUKMIN KEPADA SAUDARANYA
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ يَعُودُهُ إِذَا مَرِضَ وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ وَيَنْصَحُ لَهُ إِذَا غَابَ أَوْ شَهِدَ
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada enam kewajiban seorang muslim kepada mukmin yang lain. Apabila saudaranya sakit hendaknya dia jenguk. Apabila dia akan meninggal hendaknya dia ikut menyaksikannya. Apabila bertemu maka hendaknya dia ucapkan salam kepadanya. Apabila dia bersin hendaknya mendoakannya. Dan apabila dia pergi/tidak ada atau sedang hadir -ada di hadapannya- maka hendaknya dia bersikap nasehat kepadanya.”
📚HR. Tirmidzi
al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:
وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ يُرِيدُ خَيْرَهُ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ ، فَلَا يَتَمَلَّقُ فِي حُضُورِهِ وَيَغْتَابُ فِي غَيْبَتِهِ فَإِنَّ هَذَا صِفَةُ الْمُنَافِقِينَ
“Kesimpulannya adalah hendaknya seorang muslim senantiasa menginginkan kebaikan bagi saudaranya, baik ketika dia ada ataupun tidak ada, dan janganlah dia hanya senang mencari muka ketika berada di hadapannya dan menggunjingnya apabila saudaranya itu tidak ada di hadapannya, karena sesungguhnyahal ini termasuk ciri orang-orang munafik.”
📚Tuhfat al-Ahwadzi [7/44] asy-Syamilah
WAKIL-WAKIL IBLIS
al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata :
نُواب إبليس في الأرض وهم الذين يُثبِّطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين، فهؤلاء أضرّ عليهم من شياطين الجن.
"Wakil-wakil Iblis di muka bumi, yaitu orang-orang yang menggembosi manusia dari menuntut 'ilmu dan mempelajari agama, mereka ini lebih membahayakan Manusia dibandingkan Para Syaithon dari golongan Jin."
📚Miftah Daaris Sa'adah, jilid 1 hlm. 160
TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN PADA SEORANG MUSLIM
1. Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama (Islam).”
📚HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037
2. Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:
إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah jadikan ia beramal.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dibukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya".
📚HR. Ahmad dan selainnya
3.
عن محمد ابن كعـب القرظي رحمه الله تعالى ، قال :
إذا أراد الله تعالى بعبدٍ خيراً
جعــــل فيـه ثـلاث خـــلالٍ :
★ فقه في الدين .
★ وزهادة في الدنيا .
★ وبصيرة بعيوبه .
Muhammad bin Ka'ab Al-Qurzhi (seorang ulama generasi Tabi'in) _rahimahullah_ berkata: "Apabila Allah Ta'ala menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, niscaya Dia akan memberikan padanya 3 perkara, yaitu:
1. Pemahaman (yang benar) tentang agamanya.
2. Kezuhudan (baca: tidak rakus) terhadap (harta benda) dunia.
3. Pengetahuan tentang kekurangan dirinya."
📚Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim Al-Ashfahani, juz III/213 Dan Syarhus Sunnah, karya Imam Al-Baghawi juz VII/294
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda :
اللَّهمَّ باركْ لأُمَّتِيْ فِيْ بُكُوْرِهَا
“Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku dalam aktivitas pagi mereka”.
📚HR Abu Dawud : 2606, Tirmidzi : 1212, Sunan Abi Dawud, no 2270
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka ia akan dipahamkan dalam agama”.
📚HR Bukhari : 71, Muslim : 1037
إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah jadikan ia beramal.”
📚HR. Ahmad
إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hamba-Nya, Allah akan menahan adzab baginya akibat dosanya (di dunia), sampai Allah membalasnya (dengan sempurna) pada hari Kiamat.”
📚HR. At-Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik
من يرد الله به خيرا يصب منه
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.”
📚HR. Al-Bukhari
لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ
“Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”
📚HR. Ahmad dan At-Tirmidzi
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).”
📚HR. Al-Bukhari dan Muslim
و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر
“Tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.”
📚HR Al-Bukhari dan Muslim
ISTIGHFAR
Al Qurthubi rahimahullah mengatakan:
قال علماؤنا: الاستغفار المطلوب، هو الذي يحل عقد الإصرار، ويثبت معناه في الجنان، لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: "أستغفر الله"، وقلبه مُصر على معصيته، فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار، وصغيرته لاحقة بالكبائر.
وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحتاج إلى استغفار.
"Para ulama kita mengatakan, istighfar yang dituntut adalah istighfar yang memutus tali ishrar (maksiat yang terus-menerus), dan mengokohkan makna dari istighfar dalam hati. Tidak sekedar istighfar dalam di lisan."
"Adapun sekedar mengucapkan 'astaghfirullah' di lisan, sedangkan hatinya masih cenderung untuk melakukan maksiat, maka istighfarnya itu butuh untuk di-istighfar-i. Dan dosa kecil ketika itu menjadi dosa besar."
Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa beliau mengatakan, 'Istighfar kita butuh di-istighfar-i'"
📚Tafsir Al Qurthubi, 4/110
TAMAN SURGA ITU HALAQOH DZIKIR
Nabi bersabda:
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya,”Apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).”
📚Hadits Riwayat At-Tirmidzi
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya.”
📚Hadits Riwayat Muslim
مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فَيَقُوْمُوْنَ حَتَّى يُقَالُ لَهُمْ: قُوْمُوْا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَبُـدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ
“Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah تَعَالىَ dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.”
📚HR.Ath-Thabrani
Jumat, 05 Juli 2019
Dua Nikmat yang Jarang Disyukuri
Abu Tamimah Thorif ibn Mujalid al-Hujaimy rohimahullah berkata :
أصبحت بين نعمتين: ذنوب سترها الله فلا يستطيع أن يعيرني بها أحد، ومودة قذفها في قلوب العباد لا يبلغها عملي.
"Aku berada diantara dua kenikmatan; yang pertama adalah dosa-dosa yang Allah tutupi, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa mencelaku dengannya, yang kedua adalah kecintaan yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya yang tidak mungkin bisa kuraih dengan amalku."
📚Uddatush-Shobirin, hlm. 126
Sabtu, 01 Juni 2019
Khawatirlah Pada Amal Penutup Kehidupan
Al Imam Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata :
قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي رَوَّادٍ : حَضَرْتُ رَجُلًا عِنْدَ الْمَوْتِ يُلَقَّنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ فِي آخِرِ مَا قَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ، قَالَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ، فَإِذَا هُوَ مُدْمِنُ خَمْرٍ.
Abdul Aziz bin Abu Rowad berkata, “Aku telah menghadiri seseorang saat sekaratul mautnya, lalu ditalqin dengan kalimat Laa Ilaha Illallah, maka akhir yang diucapkannya, ia kufur terhadap apa yang engkau ucapkan tersebut dan ia pun mati diatas keadaan itu. Maka aku bertanya tentangnya, dan ternyata dia adalah orang yang kecanduan minuman keras”
فَكَانَ عَبْدُ الْعَزِيزِ يَقُولُ: اتَّقُوا الذُّنُوبَ، فَإِنَّهَا هِيَ الَّتِي أَوْقَعَتْهُ. وَفِي الْجُمْلَةِ: فَالْخَوَاتِيمُ مِيرَاثُ السَّوَابِقِ، فَكُلُّ ذَلِكَ سَبَقَ فِي الْكِتَابِ السَّابِقِ، وَمِنْ هُنَا كَانَ يَشْتَدُّ خَوْفُ السَّلَفِ مِنْ سُوءِ الْخَوَاتِيمِ، وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَقْلَقُ مِنْ ذِكْرِ السَّوَابِقِ.
Abdul Aziz (juga) berkata, 'Takutlah akan dosa karena dialah yang telah menjatuhkan mu (dalam kebinasaan), Secara umum penutup penutup amal pastilah merupakan akibat dari amal amal perbuatan yang telah lalu, dan semua itu telah didahului oleh ketetapan didalam catatan lauhul mahfudz, dan karena itulah para Salafus shalih sangat takut kepada penutup penutup amal yang buruk, sehingga diantara mereka ada yang gundah dengan amal amal yang telah mereka lakukan sebelumnya.
وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ قُلُوبَ الْأَبْرَارِ مُعَلَّقَةٌ بِالْخَوَاتِيمِ، يَقُولُونَ: بِمَاذَا يُخْتَمُ لَنَا؟ وَقُلُوبُ الْمُقَرَّبِينَ مُعَلَّقَةٌ بِالسَّوَابِقِ، يَقُولُونَ: مَاذَا سَبَقَ لَنَا.
Dikatakan hati orang orang yang baik tertambat pada amal amal penutup. Mereka biasa mengatakan, “Dengan apa amalan amalan kita akan ditutup?”, lalu hati hati orang yang didekatkan kepada Allah tertambat kepada amal amal yang telah lalu, mereka berkata, “amal apa saja yang telah kita lakukan?”
وَكَانَ سُفْيَانُ يَشْتَدُّ قَلَقُهُ مِنَ السَّوَابِقِ وَالْخَوَاتِيمِ، فَكَانَ يَبْكِي وَيَقُولُ: أَخَافُ أَنْ أَكُونَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا، وَيَبْكِي، وَيَقُولُ: أَخَافُ أَنْ أُسْلَبَ الْإِيمَانَ عِنْدَ الْمَوْتِ.
Sufyan As Tsauri senantiasa gundah dengan amal amal perbutan yang telah beliau lakukan dan juga gundah dengan penutup penutup amal, maka beliau kadang menangis dan berkata, 'Aku khawatir kalau aku tercatat di lauhul mahfudz sebagai orang yang celaka'. Dan beliau juga kadang menangis dan berkata, 'Aku khawatir iman akan dicabut dari diriku ketika kematian menjelang'
وَمِنْ هُنَا كَانَ الصَّحَابَةُ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ يَخَافُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمُ النِّفَاقَ وَيَشْتَدُّ قَلَقُهُمْ وَجَزَعُهُمْ مِنْهُ، فَالْمُؤْمِنُ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ النِّفَاقَ الْأَصْغَرَ، وَيَخَافُ أَنْ يَغْلِبَ ذَلِكَ عَلَيْهِ عِنْدَ الْخَاتِمَةِ، فَيُخْرِجُهُ إِلَى النِّفَاقِ الْأَكْبَرِ، كَمَا تَقَدَّمَ أَنَّ دَسَائِسَ السُّوءِ الْخَفِيَّةِ تُوجِبُ سُوءَ الْخَاتِمَةِ،
Inilah sebabnya para Sahabat dan As Salafus Shalih yang datang setelah mereka, takut kemunafikan mendera diri mereka, sehingga mereka sangat gundah dan takut karenanya. Karena itu, orang mu’min khawatir sekali bila kemunafikan yang kecil menghinggapi dirinya, lalu kemunafikan yang kecil itu akan mendominasi dirinya ketika kematian menjelang, sebagai mana yang telah disinggung bahwa keburukan keburukan yang tersembunyi dapat menyebabkan penutup hidup yang buruk.
وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي دُعَائِهِ: " «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ " فَقِيلَ لَهُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ، فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ فَقَالَ: " نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ شَاءَ» وَفِي هَذَا الْمَعْنَى أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ.
"Nabi shalallahu alaihi wasallam sendiri sering kali mengucapkan dalam doanya, “Wahai Dzat yang membolak balikan hati, teguhkan hatiku diatas agama Mu. Hingga pernah ditanyakan kepada beliau, wahai nabiyullah kami beriman kepada engkau dan kepada ajaran yang engkau bawa, maka apakah engkau khawatir kepada kami ? maka beliau bersabda, “Iya karena sesungguhnya hati manusia itu berada diantara dua jari Allah ‘Azza wajalla yang Dia bolak balikan sebagaimana yang Dia kehendaki. Dan hadits yang semakna dengan ini sangatlah banyak.
📚Dinukil dari Jaami'ul 'Ulum Wal Hikam, karya ibnu Rojab al Hanbali -rahimahullah
Jumat, 23 November 2018
Silaturahim
📋 #Silaturahim Meminimalisir Kerusakan
📗 "Ada hubungan tak terpisahkan antara menyambung shilaturahim dengan munculnya kerusakan. Shilaturrahim dapat menyebarkan kasih sayang dan menyebabkan rasa malu sehingga meminimalisir kerusakan yang diakibatkan manusia."
📖 Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
"Kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (QS. Muhammad [47]: 22)
📚 Dr. 'Aqil Syamri
___________________
UBN Digital Academy
Instagram : @ubndigitalacademy
================
Senin, 09 April 2018
Sabar
Dari As-Syaikh 'Atha Abu Rasytah rahimahu-Llah menyatakan,
"Sesungguhnya sabar itu adalah kamu sabar mengatakan kebenaran, melakukan kebenaran, menahan penderitaan —karena keteguhanmu dengan semua itu— di jalan Allah; sabar tidak membuat kamu berpaling, lemah, dan lunak.
Sesungguhnya sabar itu adalah sabar atas bencana, sabar dengan qadha’ (keputusan Allah), yang membuat kamu semakin teguh, tidak membuat kamu labil; semakin membuat kamu berpegang teguh pada al-Kitab, tidak membuat kamu berpaling darinya dengan dalih beratnya musibah yang menimpamu.
Sabar adalah sesuatu yang membuat seseorang bertambah dekat dengan Tuhannya, tidak membuat seseorang semakin jauh dari Tuhannya. “Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap:
‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim’.” (TQS. Al-Anbiyā’ [21] : 87).
Sesungguhnya sabar itu adalah yang mempertajam misi, dan yang mendekatkan jalan ke surga, sebagaimana kesabaran Bilal, Khubab, dan keluarga Yasir.
“Tetaplah sabar, keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.”
Sebagaimana kesabaran Khubaib, dan Zaid.
Seperti kesabaran orang-orang yang melawan penguasa tiran, dimana mereka sedikit pun tidak takut karena Allah, terhadap celaan para pencela.
Seperti kesabaran generasi pertama yang cemerlang dan diberkati, yaitu para sahabat Rasulullah ﷺ, yang jujur dan terpercaya.
Seperti kesabaran para sahabat yang menyaksikan perjanjian Hudaibiyah, mereka yang diboikot penduduk Makkah, mereka yang hijrah ke Habsyah, dan mereka yang dikejar-kejar karena mereka berkata “Allah Tuhan Kami”.
Seperti kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar ketika mereka berjihad melawan orang-orang musyrik, Persia, dan Romawi.
Seperti kesabaran tawanan perang kelompok Abdullah bin Abu Khudafah.
Seperti kesabaran para Mujahid yang beriman, yang benar dengan keimanannya.
Sabar itu adalah kamu sabar memerintahkan perbuatan yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, serta tidak lemah ketika disiksa di jalan Allah.
Sabar itu adalah kamu sabar menjadi prajurit dalam tentara kaum Muslim yang tengah bergerak untuk memerangi musuh-musuh Allah!"
Senin, 19 Februari 2018
TEGAR BERKATA YANG BENAR
TEGAR BERKATA YANG BENAR
Banyak yang ragu untuk berkata benar. Hanya karena masih memperhatikan penilaian dan ridha manusia. Imam Ahmad bin Hanbal telah meninggalkan pesan yang amat dalam,
.
تركت رضى الناس حتى قدرت أن أتكلم بالحق.
"Aku tinggalkan ridha manusia, hingga aku mampu untuk berbicara menyampaikan kebenaran." [Siyar A’lam an-Nubala', 11/34]
Imam Al Ghazali pernah menyampaikan suatu resep penting,
اعلم أن من عرف الحق بالرجال حار في متاهات الضلال فاعرف الحق تعرف أهله إن كنت سالكاً طريق الحق وإن قنعت بالتقليد والنظر إلى ما اشتهر من درجات الفضل بين الناس فلا تغفل عن الصحابة وعلو منصبهم فقد أجمع الذين عرضت بذكرهم على تقدمهم وأنهم لا يدرك في الدين شأوهم ولا يشق غبارهم ولم يكن تقدمهم بالكلام والفقه بل بعلم الآخرة وسلوك طريقها
"Ketahuilah bahwa siapa yang mengukur kebenaran dengan tokoh, ia akan tersesat dalam lembah kebingungan. Maka kenalilah kebenaran, pasti kamu akan tahu siapa pemiliknya, jika kamu benar-benar ingin meniti jalan kebenaran.
Tapi jika kamu hanya puas dengan ikut-ikutan dan melihat tren ketokohan manusia, maka jangan lupa tentang shahabat dan ketinggian derajat mereka yang tidak tertandingi. Semua itu diperoleh bukan melalui jalur kalam atau fikih, melainkan melalui jalur ilmu akhirat dan meniti jalannya." [Ihya Ulumiddin, 1/173].
Rabu, 14 Februari 2018
MEMBENCI KEMUNKARAN KARENA DORONGAN KEIMANAN
MEMBENCI KEMUNKARAN KARENA DORONGAN KEIMANAN
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ﺇِﺫَﺍ ﻋُﻤِﻠَﺖِ ﺍﻟْﺨَﻄِﻴْﺌَﺔُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ، ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺷَﻬِﺪَﻫَﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫَﻬَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﻤَﻦْ ﻏَﺎﺏَ ﻋَﻨْﻬَﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﻏَﺎﺏَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻓَﺮَﺿِﻴَﻬَﺎ، ﻛَﺎﻥَ ﻛَﻤَﻦْ ﺷَﻬِﺪَﻫَﺎ.
"Jika sebuah dosa dilakukan di muka bumi, maka siapa saja yang menyaksikannya lalu membencinya dia seperti orang yang tidak menyaksikannya, sedangkan orang yang tidak menyaksikannya namun meridhainya maka dia seperti orang yang menyaksikannya." (al-Jami’ al-Shaghir, no. 689)
FADHILAH SHALAWAT DI MALAM DAN HARI JUMAT
FADHILAH SHALAWAT DI MALAM DAN HARI JUM'AT
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الجُمُعَةِ مائةَ مرة قَضَىٰ اللهُ لَهُ مِائَةَ حَاجَةٍ سَبْعِينَ مِنْ حَوَائِجِ الآخِرَةِ، وَثَلاَثِينَ مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا"( أخرجه البيهقيُّ وغيرُه).
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang bershalawat kepadaku di hari jum'at dan dimalam jum'at, seratus kali, maka Allah SWT akan mengabulkan seratus hajatnya(kebutuhan-nya).
Tujuh puluh hajat(kebutuhan) di akhirat dan tiga puluh hajat(kebutuhan) di dunia"
[HR. Imam Al-Baihaqi dan lainya]
PESAN INDAH YANG PANTAS DITIRU
"PESAN INDAH YG PANTAS DITIRU"
Semangat Hijrah
Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air,
Maka angkat dan tolonglah...
Barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.
Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin,
Maka singkirkanlah,
Barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.
Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya,
Maka ambil dan susulkan ia dengan induknya,
Semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.
Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan,
Maka antarkanlah ia...
Barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.
Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama,
Maka ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak2 mu,
Setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..
Yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.
Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali,
Maka tahanlah tangan dan lesanmu dari menyakiti sesama makhluk hidup.....
Setidaknya itu akan menjadi sedekah untuk dirimu.
Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya.
Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”
Jangan pernah meremehkan kebaikan,
Bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya,
Bukan karena panjang shalat malamnya.
Tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.
Rasulullah bersabda:
« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».
“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum".(HR. Muslim)
Mari kita selalu berusaha dg Pikiran dan prilaku positif.
ANTARA UJIAN DAN KECINTAAN DALAM MUSIBAH
Antara ujian dan kecintaan dalam musibah...
✍Banyak manusia yang berkeluh kesah ketika tertimpa musibah.
Padahal didalamnya terdapat banyak kebaikan.
*Bahkan musibah itu termasuk tanda kecintaan Alloh kepada seorang hambanya.*
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya agungnya pahala disertai dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang redo maka Dia akan redo dan siapa yang murka, maka Dia juga akan murka.”
(HR. Abu Dawud, 2396dan dihasankan Albany dalam Silsilah As-shohehah, 146)
*Jangan galau dan bersedih ketika tertimpa musibah.*
Setiap manusia pasti pernah mengalami sakit dan musibah selama hidupnya.
*Alloh berfirman :*
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”.
*[Al-Baqaroh : 155-157]*.
*Sakit dan musibah yang menimpa seorang mukmin mengandung hikmah yang merupakan rahmat dari Alloh.*
Sebagian orang sholeh mengatakan “Tanda cobaan itu sebagai balasan dan imbalan adalah tidak sabar ketika ada cobaan dan mengeluh serta mengaduh kepada makhluk.
*Tanda cobaan itu sebagai penghapus dan filter kesalahan adalah adanya kesabaran nan indah tanpa ada keluhan.* Tidak mengeluh dan tidak mengaduh. Tidak berat dalam menunaikan perintah ketaatan.
Tanda cobaan untuk mengankat derajat adalah adanya keredoan dan persetujuan, jiwanya tenang serta damai dalam ketentuan sampai terlampaui (terselesaikan).
Imam Ibnul Qayyim berkata : “Andaikata kita bisa menggali hikmah Alloh yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Alloh, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan inipun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini”.
(Syifa-ul Alill hal. 452).
*Memang musibah bagi orang kafir adalah adzab
Akan tetapi musibah yang menimpa seorang mukmin bukanlah adzab*
⏺Adakalanya musibah itu untuk meninggikan derajat, memperbesar pahala, dan sebagai qudwah (teladan) bagi yang lainnya untuk bersabar.
Dari Sa’id berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَل
ُ
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.”
(HR. Tirmidzi, 2398, Ibnu Majah, 4024, dishohihkan Al Albani dalam At Targhib wa At Tarhib, 3402)
⏺Musibah bisa jadi pula sebagai sebab dihapuskannya dosa,
Rasulullo صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَر
ِ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Alloh akan mengugurkan namanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”.
*(HR. Bukhari*)
Sabdanya,
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
"Tidaklah menimpa penderitaan, kesengsaraan, sakit, dan kesedihan yang menimpa seorang mukmin, melainkan dgn semua itu dihapuskan sebagian dosanya.
[HR. Muslim No.4670].
⏺Terkadang musibah itu sebagai adzab yang disegerakan oleh Alloh didunia kepada hambanya untuk kebaikan di akheratnya.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
*“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Alloh menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.”*
(HR. Tirmidzi, 2396 dihasankan Al Albani)
📌Bersyukurlah...!
*Alloh masih memberikan peringatan dengan datangnya musibah atau sakit.*
Betapa banyaknya manusia yang lalai dan menjadi sombong dan takabur karena tidak pernah mendapatkan musibah.
Bukankah namrud, fir'aun, qorun dang yang lainnya menjadi sombong karena selalu sukses dan tidak gagal. Tidak tertimpa musibah...
Alhamdulillah, atas segala nikmat Alloh berupa kebaikan dan ujian.
🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc
HATI-HATI DENGAN ISTIDRAJ
❌ *HATI-HATI DENGAN ISTIDRAJ*📌
Jika kita tidak segera melakukan Transformasi Diri dengan menjauhi mindset materialisme dari dalam diri kita, sehingga kita terlena dengan kehidupan dunia akhirnya terjebak Istidraj dari Alloh karena kelalaian kita sendiri. Ujung-ujungnya adalah musibah dan kerugian di akhirat kelak.
*Apa itu istidraj?*
Istidraj itu adalah ketika Allah tetap memberikan kita:
✅ 1. *Harta yang berlimpah;* padahal tidak pernah bersedekah.
✅ 2. *Rezeki berlipat-lipat;* padahal jarang shalat dan terus berbuat maksiat.
✅ 3. *Dikagumi, dihormat;* padahal akhlak bejat.
✅ 4. *Diikuti, diteladani dan diidolakan;* padahal mengumbar aurat dalam berpakaian.
✅ 5. *Sangat jarang diuji sakit;* padahal dosa-dosa menggunung dan membukit.
✅ 6. *Tidak pernah diberikan musibah;* padahal hidup sombong, angkuh dan bedebah.
✅ 7. *Anak-anak sehat-sehat, cerdas-cerdas;* padahal diberikan makan dari harta hasil culas.
✅ 8. *Hidup bahagia penuh canda tawa;* padahal banyak orang karenanya ternoda dan terluka.
✅ 9. *Karirnya terus menanjak;* padahal banyak orang yang diinjak-injak.
✅ 10. *Semakin tua semakin makmur;* padahal berkubang dosa sepanjang umur.
🔥 _Hati-hati karena itulah yang dinamakan *ISTIDRAJ.*_
*Renungkan ayat ini:*
☝ ALLOH _Subhanahu Wa Ta'ala.,_ berfirman:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Artinya:
_"Maka tatkala *mereka melupakan peringatan* yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun *membukakan semua pintu-pintu kesenangan* untuk mereka; sehingga apabila *mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan* kepada mereka, *Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong*, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa."_
*(QS. Al-'An'ām [6] : 44)*
👉 Rasulullah _Shallallahu 'Alaihi Wassalam.,_ bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
*_"Jika kamu melihat ALLOH memberikan dunia kepada seorang manusia pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia (pelaku maksiat) sukai, maka sesungguhnya itu adalah ISTIDRAJ."_*
(HR. Ahmad)
Maka jangan silau dengan kesuksesan dan kemegahan yang ditampilkan seseorang. Bisa jadi dia sedang mengalami *istidraj.*
Dan pada saatnya nanti ALLOH _Subhanahu Wa Ta'ala.,_ tiba-tiba akan mencabut semua kenikmatan itu, tanpa dia sadari.
💦 Sebagai orang beriman yang dikasihi ALLOH _Subhanahu Wa Ta'ala.,_ maka *ALLOH _Subhanahu Wa Ta'ala.,_ akan selalu menjaga kita dari segala kemaksiatan, tidak dibiarkan dalam kesesatan.*
💦 _Jadi kalau kita sudah *beramal sholeh,* namun kita masih diberi *ujian / cobaan,* maka itulah tanda *kasih sayang ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala., pada hamba-hamba-Nya,* berupa keringanan dosa dan menuju Ampunan-Nya._
SAUDARA YANG SEBENARNYA
SAUDARA YANG SEBENARNYA
Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata:
والإخوان يُعرفون عند الحوائج؛ لأن كل الناس في الرخاء أصدقاء، وشرُّ الإخوان الخاذل لإخوانه عند الشدة والحاجة. اهـ
"Saudara yang sebenarnya diketahui di saat membutuhkan, karena semua orang berteman hanya ketika dalam keadaan senang, dan seburuk-buruk saudara adalah yang menelantarkan saudaranya ketika susah dan membutuhkan."
[Raudhatul Uqala', hlm. 221]