Minggu, 15 November 2015

Ekspresi Kemarahan Teror Paris

Awas pengalihan isu!

Disaat isu disintegrasi Papua menghangat dan dukungan dari AS pun kian merapat.

Disaat ada wacana kenaikan tarif listrik, BBM, harga beras.

Disaat negeri ini dibombardir paket kebijakan ekonomi jilid 1hingga 7 yang pro neolib.

Disaat dewan mempersoalkan dana hutang 2000T di tangan pemerintah mau dikemanakan.

Disaat impor beras, sapi dan lainnya dari luar negeri berdatangan ke negeri ini.

Disaat pro kontra hasil kunjungan presiden ke AS dan membawa proyek USD 20 M lebih.

Disaat pro kontra ketergabungan Indonesia kedalam TPP (Trans Pasific Patnership).

Disaat APEC menjadi ladang strategis untuk menjual negeri.

Disaat bencana marak dan datang bertubi-tubi.

Disaat para buruh, mahasiswa dan teriakan lantang rakyat menuntut perubahan.

Isu terorisme tiba-tiba menjadi headline di semua media, menjadi fokus diskusi para politisi, pejabat hingga tokoh masyarakat.

Dunia seolah satu suara, dan semua seakan menutupi luka yang tengah mendera negeri ini.

Negeri pesakitan yang dirinya telah terjual.
Kaya karena pajak.
Terlihat gagah karena hutang.
Dan terhormat karena telah menjadi santapan imperialis .

Dunia menempatkan negeri ini sebagai surga mereka.
Di tengah kemiskinan dan krisis global, negeri murah hati ini membuka hati, mempersilahkan tamu asing meraup untung dinegeri ini.
Apakah negeri ini untung?
Tentu.
Untung sekali.
Pinjaman hutang investasi mengalir deras.
Penghormatan dan pujian dari dunia mewangi di pemberitaan2 internasional.
Apakah harus berbangga???

Sekali lagi.
Negeri pesakitan menganggap sakit jiwa2 yang mengingatkan akan kekeliruan.
Memuhasabah akan kesalahan.
Menunjuki arah agar tak menyimpang.

Tak mudah menjadi mayoritas.
Karena tirani minoritas kini menjadi tren baru atas nama HAM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar