Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2016

Nusaibah

#Nusaibah, #Wanita Sebanding Seribu Laki-laki

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkan peperangan pada kaum mukminin –walau mereka tidak menyukainya– karena berguna untuk melawan kesewenang-wenangan, mempertahankan tanah air, dan menjaga agama dari penghinaan tangan-tangan kaum tercela; serta melindung kehormatan, kemuliaan, dan harta benda.

Allah tidak mewajibkannya pada wanita karena mereka tidak akan mampu memikul beban-bebannya dan tidak kuasa menghadapi berbagai tekanan dan kesulitan. Allah menempatkan mereka di belakang kaum lelaki guna mendidik anak-anak, mengurus rumah tangga, melayani suami, dan tugas-tugas lain yang dibebankan pada kaum ibu.

Namun demikian, apabila kondisi mendesak, Allah mengizinkan mereka turut serta bersama kaum lelaki terjun dalam pertempuran. Sebab, dalam situasi seperti ini, wanita mampu menghadapi peperangan dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi para tentara.

Para ahli sirah dan sejarawan menyebutkan bahwa wanita telah memberi sumbangsih besar pada kaum laki-laki dalam banyak pertempuran. Ia bahu membahu berperang bersamanya, atau berada di belakang pasukan untuk melindunginya dari tipu daya musuh, mengembalikan tentara yang lari dari medan tempur, menyediakan air, makanan serta senjata untuk mereka, dan hal-hal lain yang diperlukan dalam peperangan.

Di antara pejuang wanita yang memiliki nama harum dalam sejarah para wanita penyabar dan tulus adalah Ummu Umarah Nusaibah binti Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah An-Najjariyah.

Ia satu di antara para #mujahid wanita terbaik yang telah menyumbang andil besar demi membela agama dalam berbagai peristiwa. Ia menyatakan pada seluruh dunia bahwa bila seorang wanita muslimah menyandang senjata iman yang sempurna, tekad tulus dan keinginan kuat, ia bisa menciptakan banyak keajaiban dan membuat contoh menakjubkan dalam bentuk kepahlawanan langka dan keberanian yang luar biasa.

Ia seorang wanita yang beriman kepada Rabb dan konsisten pada ajaran agamanya. Allah memberinya keyakinan dan petunjuk, serta menganugerahinya kekuatan menghadapi kesulitan dan menaklukkan berbagai halangan.

Ia adalah salah satu dari dua wanita yang datang bersama 73 lelaki ke Mekah untuk bertemu Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dan berjanji setia pada beliau di Aqabah. Selamanya, ia termasuk wanita yang berbai’at. Ia berbai’at kepada Nabi dalam Bai’atur Ridhwan yang berlangsung di bawah sebuah pohon, di mana Allah telah meridhai semua orang yang berbai’at di bawahnya dan mencatatkannya dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al-Fath: 18).

Bai’at ini dilakukan terkait kesediaan berperang melawan penduduk Mekah bila mereka berani mengganggu atau merintangi kaum muslimin masuk Mekah untuk mengunjungi Baitul Haram. Kisah bai’at ini dimuat dalam buku-buku sirah.

***

Nusaibah berangkat ke medan Uhud bersama suami dan kedua anaknya, Hubaib dan Abdullah putra Zaid bin Ashim bin Amru. Ia bertempur dengan gigih dan mendapat hadiah 12 luka.

Dalam berperang, ia menunjukkan keberanian luar biasa yang mampu menarik kekaguman Nabi dan para sahabat beliau yang menyaksikan. Ia meloncat, menerkam, dan mengayunkan pedangnya ke segala arah. Bersama suami dan kedua putranya bahu membahu menggempur musuh.

Nabi melihat keluarga ini membelah jalannya menuju Uhud dengan penuh percaya diri dan yakin. Beliau bersabda pada mereka, “Semoga Allah merahmati kalian wahai keluarga. Semoga Allah memberkahi kalian wahai keluarga.”

Nusaibah memanfaatkan kesempatan ini dengan berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkan pada Allah agar kami dapat menemani baginda di surga.” Lantas beliau mengucapkan, “Ya Allah, jadikan mereka kawan-kawanku di surga.”

Kebahagiaan besar memancar dari hati Nusaibah. Ia menuturkan, “Setelah itu aku tidak peduli apa pun yang menimpaku dalam urusan dunia.”

Nusaibah pernah bertarung melawan musuh Allah, Amru bin Qum’ah. Dalam pertarungan ini, Nusaibah memperlihatkan keahlian bertempurnya dan semangat juangnya dalam berperang, sehingga musuh Allah ini tidak sanggup mengalahkannya. Hanya saja ia berhasil menimpakan luka mendalam yang cukup lama diderita Nusaibah.

Ummu Sa’ad binti Sa’ad bin Rabi’ pernah bertanya padanya tentang kenangan-kenangan jihad dan perjuangannya. Ia berkata, “Wahai bibi, ceritakan padaku kisahmu di perang Uhud.”

Kemudian Ummu Umarah menuturkan, “Menjelang siang, aku keluar melihat orang banyak. Aku membawa wadah berisi air. Aku sampai kepada Rasulullah yang berada di tengah-tengah para sahabat. Keuntungan berpihak pada pasukan muslimin –maksudnya, saat itu mereka unggul–. Kemudian ketika pasukan muslimin terdesak, aku bergabung bersama Rasulullah. Aku ikut terjun dalam perang, melindungi beliau dengan pedang dan membidikkan panah, hingga aku mengalami luka-luka.”

Lantas Ummu Sa’ad menanyakan luka di pundaknya yang dalam, siapa yang melukainya? Ia menjawab, “Ibnu Qum’ah, semoga Allah menghinakan dan menistakannya.”

Kisahnya, ketika orang-orang meninggalkan Rasulullah, Ibnu Qum’ah datang sambil berkata, “Tunjukkan padaku di mana Muhammad. Aku tidak selamat bila ia selamat.” Maka aku, Mus’ab bin Umair dan beberapa orang yang bertahan untuk melindungi Rasulullah menghadangnya. Ia memukulku hingga menyebabkan luka ini. Sebenarnya aku berhasil membalasnya dengan beberapa pukulan, sayangnya musuh Allah ini mengenakan dua lapis baju besi.”

Demikianlah, wanita yang diasuh Islam dan menjadi putri keimanan ini tidak gentar terhadap tebasan pedang dan tusukan tombak. Sebaliknya ia maju dengan gagah berani dan bertekad mengerahkan semua kemampuannya demi membela agama, kemerdekaan dirinya, dan kehormatan umatnya.

Ia membalas satu pukulan orang yang jahat lagi pendosa dengan beberapa pukulan yang kuat dan berbobot. Hanya saja musuh terlaknat ini melindungi tubuhnya dengan dua lapis baju besi. Lihat! Tidak cukup satu baju besi. Saat itu Ummu Umarah melupakan segala sesuatu selain bahwa dirinya berada di tengah-tengah medan yang memerlukan ketulusan dan pengorbanan. Karenanya, ia terus menikam dan memukul hingga Rasulullah pernah bertutur, “Aku tidak menoleh ke kanan dan kiri kecuali aku melihat Ummu Umarah bertempur melindungiku.”

Di perang Uhud, Nabi melihat seorang laki-laki yang membawa perisai, namun tidak ia pergunakan untuk melindungi diri. Sedangkan Ummu Umarah tidak membawa peralatan untuk melindungi dirinya. Maka Nabi berkata kepada lelaki tersebut seraya menunjuk pada Ummu Umarah, “Lemparkan perisaimu pada orang yang bertempur itu.”

Orang itu memberikan perisainya, lalu Ummu Umarah mempergunakannya untuk melanjutkan pertarungan.

MANAKALA Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam melihat luka Ummu Umarah mengalirkan darah, beliau memanggil putranya seraya berkata, “Hai putra Ummu Umarah, ibumu… ibumu! Balutlah lukanya! Semoga Allah memberkahi kalian wahai keluarga. Ibumu lebih baik daripada si fulan dan si fulan.”

Dan ketika putranya Abdullah terluka, darah mengalir deras. Maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Balutlah lukamu!” Ummu Umarah mendengar ucapan Rasulullah dan ia membawa beberapa helai perban yang ia gantungkan di perut. Ummu Umarah mengambilnya, kemudian membalut luka putranya. Selanjutnya ia berkata, “Bangkitlah, gempurlah musuh-musuh itu.”

Dengan penuh kekaguman, Nabi bersabda kepadanya, “Siapa yang mampu melakukan apa yang telah engkau lakukan ini, wahai Ummu Umarah?” Tidak lama setelah itu, Rasulullah melihat orang yang telah melukai putra Ummu Umarah. Beliau menuding orang tersebut sembari berkata kepada Ummu Umarah, “Ia yang melukai putramu.”

Ummu Umarah segera berusaha mendekati orang tersebut dan memukul betisnya. Musuh itu jatuh tersungkur, kemudian Ummu Umarah menuntaskan kematiannya. Rasulullah bersabda kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanmu, membahagiakanmu dengan kematian musuhmu dan memperlihatkan terbalasnya dendammu pada kedua matamu.”

Ummu Umarah menuturkan apa yang ia alami dalam perang ini, “Aku melihat orang-orang berhamburan meninggalkan Rasulullah –mereka lari meninggalkan beliau karena sangat takut–. Dan hanya tersisa kira-kira 10 orang. Aku, dua putraku, dan suamiku, berdiri di depan beliau. Kami melindungi Rasuiuilah dari incaran musuh, sedang orang-orang hanya melewati beliau. Mereka terdesak mundur.

Beliau melihatku tidak memegang perisai. Ketika beliau melihat seorang prajurit yang lari dan ia membawa perisai, beliau berteriak, “Lemparkan perisaimu pada orang yang berperang itu.” Prajurit itu melemparkannya, lantas aku mengambilnya. Kemudian aku pergunakan sebagai perisai untuk melindungi Rasulullah.

Sungguh yang bisa membuat kami kerepotan hanya pasukan kuda. Andai mereka berjalan seperti kami, insya Allah kami sanggup mengalahkan mereka. Seseorang datang dengan menunggang kuda. Ia memukulku dan aku menangkisnya dengan perisai. Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan berbalik. Aku segera memukul tumit kudanya, sehingga ia terjatuh dari punggung kuda. Spontan Nabi berteriak, “Ibumu… ibumu..” Lantas putraku membantuku mengalahkan orang itu hingga aku berhasil mengantarkannya menuju ajalnya.

Abdullah bin Zaid berkata, “Di hari itu aku mendapat luka mendalam dan darah tidak mau berhenti mengalir. Nabi bersabda, “Balutlah lukamu.” Ibu menghampiriku dengan membawa beberapa perban di pinggangnya. Ia membekap lukaku, sedang Nabi berdiri. Setelah selesai, ibu berkata, “Bangkitlah putraku, kalahkan orang-orang itu!”

Nabi bersabda, “Siapa yang sanggup memperbuat apa yang engkau perbuat, wahai Ummu Umarah?!”

***

Hari-hari terus berjalan dengan manis dan pahitnya, sedang Nusaibah binti Ka’ab setia berjihad di jalan Allah dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Rasulullah wafat, kemudian kaum muslimin membai’at Abu Bakar sebagai khalifah, dan kelompok murtadin berbalik meninggalkan agama Islam.

Di bawah pimpinan Musailamah Al-Kadzdzab, mereka menyuarakan peperangan terhadap kaum muslimin. Maka Abu Bakar menyiagakan beberapa gempuran pada kelompok murtad di semenanjung jazirah Arab tersebut.

Pertempuran Yamamah merupakan pertempuran terdahsyat bagi kaum muslimin, tapi mereka memperlihatkan keberanian yang tidak tertandingi.

Di antara para pejuangg di jalan Allah ini adalah Nusaibah binti Ka’ab dan kedua putranya, Hubaib dan Abdullah. Hubaib tertawan oleh Musailamah. Ia disiksa dan menerimanya dengan sabar.

Musailamah berkata pada Hubaib, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah?” Dengan tegas ia menjawab, “Ya”

Musailamah bertanya lagi, “Apakah engkau mengakui aku utusan Allah?” Ia menjawab, ‘Aku tidak mendengar.” Lantas Musailamah mencincang tubuh Hubaib hingga meninggal.

Nusaibah mengetahui kematian putranya. Ia bernazar tidak akan mandi hingga Musailamah mati. Ia pun menuju medan laga bersama putranya yang lain, Abdullah. Ia sangat ingin menghabisi nyawa Musailamah dengan tangannya. Tapi takdir menghendaki orang yang membunuh Musailamah adalah putranya, Abdullah, yang membalaskan dendam saudara kandungnya, Hubaib.

Ummu Umarah menuturkan, “Dalam pertempuran Yamamah, tanganku terputus padahal aku ingin membunuh Musailamah. Namun tidak ada yang mengendurkan keinginanku hingga aku melihat orang busuk tersebut terkapar tidak bernyawa. Ternyata putraku, Abdullah bin Zaid, tengah mengusap pedangnya dengan bajunya. Aku menanyainya, “Engkau telah membunuhnya?” Ia menjawab, “Ya.” Lantas aku sujud syukur kepada Allah.

Dalam membunuh Musailamah, Abdullah dibantu Wahsyi bin Harb –pembunuh Hamzah di perang Uhud. Ia telah masuk Islam dan bersungguh-sungguh menjalankan ajarannya.

Dalam berbagai palagan perang, Nusaibah sebanding dengan 1.000 lelaki. Ia memenggal tengkuk pasukan musyrikin dan tidak peduli dengan keselamatannya selagi demi membela Allah.

Nusaibah adalah teladan bagi setiap mukmin dan mukminah, dan figur perjuangan serta pengorbanan. Kiranya Nusaibah binti Ka’ab dan wanita-wanita mukminah mujahidah lainnya cukup menjadi teladan bagi setiap wanita beriman yang mampu memberi kontribusi berarti dalam membela agama, melindungi tanah air dan merealisasikan kemajuan serta kesejahteraan. Semoga Allah membimbing dan meluruskan langkah mereka.

Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail, terangkum dalam bukunya Bidadari 2 Negeri.

Kamis, 07 Januari 2016

Konspirasi Arab

Bagaimana Inggris Memecah Belah Dunia Arab

Perkembangan negara bangsa (nations state) modern di seluruh dunia Arab adalah proses menarik dan memilukan. 100 tahun yang lalu, sebagian besar wilayah Arab adalah bagian dari KhilafahUtsmani, suatu negara multi – etnis yang besar yang berbasis di Istambul. Pada hari ini, peta politik dunia Arab tampak seperti suatu teka-teki silang yang sangat rumit. Suatu perjalanan yang kompleks dan rumit dari peristiwa-perristiwa yang terjadi di tahun 1910-an yang mengakhiri Dinasti Utsmani dan bangkitnya negeri-negeri baru dengan perbatasan di sepanjang Timur Tengah, yang memecah kaum muslim satu sama lain. Meskipun ada banyak faktor yang berbeda yang menyebabkan hal ini, peran yang dimainkan Inggris dalam hal ini adalah jauh lebih besar daripada para pemain lain di wilayah tersebut. Tiga perjanjian terpisah membuat janji-janji yang saling bertentangan yang menjadikan Inggris harus siap siaga. Hasilnya adalah kekacauan politik yang memecah sebagian besar dunia muslim.

Pecahnya Perang Dunia I

Pada musim panas tahun 1914, perang pecah di Eropa. Suatu sistem aliansi yang kompleks, perlombaan senjata militeristik, ambisi kolonial, dan kesalahan manajemen di tingkat pemerintahan tertinggi menyebabkan perang itu begitu dahsyat dan merenggut nyawa 12 juta orang selama tahun 1914-1918. Di sisi “Sekutu” berdiri Kerajaan Inggris, Perancis, dan Rusia. Di sisi “Tengah” terdiri dari Jerman dan Austria – Hongaria.

Pada awalnya, Imperium Utsmani memutuskan untuk tetap bersikap netral. Mereka hampir tidak sekuat negara-negara lain yang ikut dalam perang, dan didera oleh ancaman internal dan eksternal. Sultan/khalifah Utsmani adalah tidak lebih dari boneka pada saat ini, dengan sultan terakhir yang kuat, Abdulhamid II, digulingkan pada tahun 1908 dan diganti dengan pemerintahanmiliter yang dipimpin oleh “Tiga Pasha”. Mereka berasal dari kelompok sekuleryang beraliran Barat, yakni kelompok Turki Muda. Secara finansial, Utsmani dalam kondisi terikat, karena utang yang besar kepada kekuatan Eropa sehingga mereka tidak mampu membayarnya. Setelah mencoba bergabung dengan pihak Sekutu dan ditolak, Utsmani memihak Blok Sentral pada bulan Oktober 1914.

Inggris segera mulai memahami rencana untuk membubarkan Imperium Utsmani dan memperluas kerajaan mereka di Timur Tengah. Mereka sudah punya kendali di Mesir sejak tahun 1888 dan India sejak tahun 1857. Utsmani Timur Tengah tergeletak tepat di tengah-tengah dua koloni penting, dan Inggris bertekad untuk memusnahkannya sebagai bagian dari perang dunia.

Revolusi Arab

Salah satu strategi Inggris adalah untuk mengubah penduduk Arab di Imperium Utsmani untuk melawan pemerintah. Mereka menemukan pembantu yang siap dan bersedia melakukan hal itu di Hijaz, di wilayah barat Semenanjung Arab. Sharif Hussein bin Ali, yakni Amir (Gubernur) dari Makkah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Inggris untuk memberontak melawan Imperium Utsmani. Alasannya untuk bersekutu dengan Inggris untuk melawan umat Islam lainnya masih belum jelas. Kemungkinan alasan pemberontakan itu adalah: ketidaksetujuannya dengan tujuan nasionalis “Tiga Pasha” Turki, perseteruan pribadi dengan pemerintah Utsmani, atau hanya keinginan bagi kerajaannya sendiri.

Apapun alasannya itu, Sharif Hussein memutuskan untuk memberontak melawan pemerintah Utsmani dan bersekutu dengan Inggris. Sebagai imbalannya, Inggris berjanji untuk memberikan uang dan senjata kepada para pemberontak untuk membantu mereka agar bisa melawan tentara Utsmani dengan jauh lebih terorganisir. Juga, Inggris berjanji kepadanya bahwa setelah perang, dia akan diberi kerajaan Arab tersendiri yang akan mencakup seluruh Semenanjung Arab, termasuk Suriah dan Irak. Surat-surat di mana kedua belah pihak menegosiasikan dan membahas pemberontakan ini dikenal sebagai Korespondensi McMahon – Hussein, saat Sharif Hussein berkomunikasi dengan Komisaris Tinggi Inggris di Mesir, Sir Henry McMahon.

Pada bulan Juni tahun 1916, Sharif Hussein memimpin sekelompok prajurit Bedouin dari Hijaz dalam kampanye bersenjata melawan Utsmani. Dalam beberapa bulan, para pemberontak Arab berhasil menaklukan berbagai kota di Hijaz (termasuk Jeddah dan Makkah) dengan bantuan dari tentara dan angkatan laut Inggris. Inggris memberikan dukungan dalam bentuk tentara, senjata,uang, dan penasehat (termasuk penasehat “legendaris” Lawrence of Arabia), dan bendera. Di Mesir, Inggris membuat bendera untuk Arab untuk digunakan dalam pertempuran, yang dikenal sebagai “Bendera Revolusi Arab”. Bendera itu nantinya akan menjadi model bagi bendera Arab lainnya dari negara-negara seperti Yordania, Palestina, Sudan,Suriah, dan Kuwait.

Pada saat Perang Dunia I berkembang selama tahun 1917 dan 1918, para pemberontak Arab berhasil menaklukkan banyak kota-kota besar dari Utsmani. Saat Inggris memasuki Palestina dan Irak, mereka menaklukkan kota-kota seperti Yerusalem dan Baghdad, dan orang-orang Arab membantu mereka menaklukkan Amman dan Damaskus. Penting untuk dicatat bahwa Revolusi Arab tidak memiliki dukungan dari sebagian besar penduduk Arab. Revolusi itu adalah gerakan minoritas yang dipimpin oleh beberapa pemimpin yang berusaha untuk meningkatkan kekuatan mereka sendiri. Sebagian besar orang-orang Arab tinggal jauh dari wilayah konflik dan tidak mendukung pemberontak atau pemerintah Utsmani. Rencana Sharif Hussein untuk menciptakan kerajaan Arab sendiri sejauh itu telah berhasil, jika bukan karena janji-janji yang dibuat Inggris.
Perjanjian Sykes Picot

Sebelum Revolusi Arab dimulai dan bahkan sebelum Sharif Hussein bisa menciptakan kerajaan Arabnya, Inggris dan Perancis sudah punya rencana lain. Pada musim dingin tahun 1915-1916, dua orang diplomat, Sir Mark Sykes dari Inggris dan François Georges – Picot dari Perancis diam-diam bertemu untuk memutuskan nasib dunia pasca  Utsmani-Arab.

Menurut Perjanjian Sykes – Picot, Inggris dan Perancis sepakat untuk membagi dunia Arab diantara mereka berdua. Inggris mengambil kendali dari apa yang sekarang menjadi Irak, Kuwait, dan Yordania. Perancis diberi Suriah modern, Lebanon, dan Turki selatan. Status Palestina akan ditentukan kemudian, dengan memperhitungkan ambisi Zionis. Zona kontrol yang diberikan kepada Inggris dan Perancis memperbolehkan beberapa jumlah pemerintahan Arab sendiri di beberapa wilayah, meskipun dengan kontrol Eropa atas kerajaan-kerajaan Arab tersebut. Di wilayah lain, Inggris dan Perancis dijanjikan kontrol total.

Meskipun hal ini dimaksudkan untuk menjadi sebuah perjanjian rahasia pasca- Perang Dunia I di Timur Tengah, perjanjian ini mulai dikenal publik pada tahun 1917 ketika pemerintah BolshevikRusia mengungkapnya. Perjanjian Sykes Picot – secara langsung bertentangan dengan janji Inggris yang dibuat bagi Sherif Hussein dan menyebabkan ketegangan besar antara Inggris dan Arab. Namun, hal ini tidak menjadi perjanjian yang bertentangan yang terakhir yang dibuat Inggris.

Deklarasi Balfour

Kelompok lain yang menginginkan suara dalam lanskap politik di Timur Tengah adalah Zionis. Zionisme adalah gerakan politik yang menyerukan pembentukan sebuah negara Yahudi di Tanah Suci Palestina. Hal ini dimulai pada tahun 1800 sebagai sebuah gerakan yang berusaha untuk menemukan tanah air yang jauh dari Eropa bagi orang-orang Yahudi (yang sebagian besar tinggal di Jerman, Polandia, dan Rusia).

Akhirnya Zionis memutuskan untuk menekan pemerintah Inggris selama Perang Dunia I untuk memungkinkan mereka agar bisa menetap di Palestina setelah perang usai. Di dalam pemerintahInggris, ada banyak orang yang bersimpati kepada gerakan politik ini. Salah satunya adalah Arthur Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris. Pada tanggal 2 November 1917, dia mengirim surat kepada Baron Rothschild, pemimpin komunitas Zionis. Surat itu menyatakan dukungan resmi pemerintah Inggris untuk tujuan gerakan Zionis untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina:

“Pandangan pemerintahYang Mulia dengan mendukung pendirian di Palestina sebagai suatu tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi, dan menggunakan upaya terbaik untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, jelas dipahami bahwa tidak akan dilakukan hal-hal yang mungkin merugikan sipil dan keagamaan hak-hak masyarakat non – Yahudi yang ada di Palestina, atau hak-hak dan status politik yang dimiliki orang-orang Yahudi di negara lain.”


Tiga Perjanjian Yang Bertentangan 

Tahun 1917, Inggris membuat tiga perjanjian yang berbeda dengan tiga kelompok yang berbeda dan menjanjikan tiga masa depan politik yang berbeda bagi dunia Arab. Orang-orang Arab bersikeras mereka masih mendapatkan kerajaan Arab yang dijanjikan kepada mereka melalui Sharif Hussein. Perancis (dan Inggris sendiri) diharapkan membagi tanah yang sama di antara mereka sendiri. Dan Zionis diharapkan akan diberikan Palestina seperti yang dijanjikan oleh Balfour.

Pada tahun 1918 perang berakhir dengan kemenangan Sekutu dan kehancuran total Imperium Utsmani. Meskipun Utsmani hanya sebagai nama hingga tahun 1922 (dan kekhalifahan sebagai nama sampai tahun 1924), semua tanah bekas Utsmani kini di bawah pendudukan Eropa. Perang usai, tapi masa depan Timur Tengah masih dalam sengketa antara tiga sisi yang berbeda.

Sisi mana yang menang? Tidak satupun yang sepenuhnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebagai buntut dari Perang Dunia I, Liga Bangsa-Bangsa (yang merupakan cikal bakal PBB) didirikan. Salah satu pekerjaannya adalah untuk memecah negeri-negeri Utsmani yang ditaklukan. Liga Bangsa-Bangsa (LBB) menyusun “mandat” bagi dunia Arab. Setiap mandat dikuasai oleh Inggris atau Perancis “sampai saat mereka mampu berdiri sendiri.” LBB adalah lembaga yang menyusun perbatasan seperti yang kita lihat pada peta politik modern di Timur Tengah. Perbatasan itu tibuat tanpa memperhatikan keinginan masyarakat yang tinggal di sana, atau di sepanjang batas-batas etnis, geografis, atau agama – mereka benar-benar berbuat sewenang-wenang. Penting untuk dicatat bahwa bahkan sampai hari ini, batas-batas politik di Timur Tengah tidak menunjukkan kelompok orang-orang yang berbeda . Perbedaan antara Irak,Suriah, Yordania, dll seluruhnya diciptakan oleh penjajah Eropa sebagai metode untuk memecah Arab satu sama lain.
Melalui sistem mandat, Inggris dan Prancis mampu mendapatkan kontrol yang mereka inginkan di Timur Tengah. Bagi Sharif Hussein, anak-anaknya diizinkan untuk memerintah dengan mandat di bawah “perlindungan” Inggris. Pangeran Faisal menjadi Raja Irak danSuriah dan Pangeran Abdullah diangkat menjadi Raja Yordania. Namun, dalam prakteknya, Inggris dan Perancis memiliki kewenangan yang nyata atas wilayah-wilayah tersebut.

Bagi Zionis, mereka diizinkan olehpemerintah Inggris untuk menetap di Palestina, meskipun dengan keterbatasan. Inggris tidak ingin kemarahan orang-orang Arab yang sudah tinggal di Palestina, sehingga mereka mencoba membatasi jumlah orang-orang Yahudi yang diizinkan untuk bermigrasi ke Palestina. Hal ini membuat marah kaum Zionis, yang kemudian mencari cara-cara ilegal untuk berimigrasi sepanjang tahun 1920 hingga 1940-an, serta orang-orang Arab, yang melihat imigrasi sebagai perambahan ke tanah dimana mereka telah menetap sejak Salahudin membebaskan wilayah itu pada tahun 1187.

Kekacauan politik yang diciptakan Inggris pada masa setelah Perang Dunia I masih terasa sampai sekarang. Perjanjian-perjanjian yang bertentangan dan negara-negara yang kemudian diciptakan untuk memecah belah umat Islam satu sama lain telah menyebabkan ketidakstabilan politik di seluruh Timur Tengah. Munculnya Zionisme ditambah dengan perpecahan umat Islam di wilayah itu telah menyebabkanpemerintahan yang korup dan kemerosotan ekonomi bagi Timur Tengah secara keseluruhan. Perpecahan yang dilembagakan oleh Inggris di duniamuslim tetap kuat hingga hari ini, meskipun dibuat dalam 100 tahun terakhir. (riza/ http://lostislamichistory.com/how-the-british-divided-up-the-arab-world/)

 

Daftar Pustaka :

Hourani, Albert Habib. A History Of The Arab Peoples. New York: Mjf Books, 1997. Print.Ochsenwald, William, and Sydney Fisher. The Middle East: A History. 6th. New York: McGraw-Hill, 2003. Print.

Sabtu, 26 Desember 2015

Tahun Baru

Mengenal Perayaan Tahun Baru Masehi Yuk!

Semua kalangan dari kota-kota besar hingga di desa yang sedikit metropolitan seolah tidak ada kata ‘absen’ untuk perayaan setiap tanggal 1 Januari. Hari spesial yang hanya ditemui setahun sekali ini ternyata dirayakan oleh banyak orang di dunia. Libur panjang yang beriringan dengan Natal bahkan bertepatan dengan liburan sekolah menambah riuh orang-orang yang berkeinginan melalui pergantian tahun itu dengan berbagai kegiatan spesial. Di Indonesia, perayaan tahun baru identik dengan kembang api dan terompet. Bukan hanya itu, malah perayaan tahun baru identik juga dengan berbagai bentuk kemaksiatan dan kriminalitas seperti free sex, pesta narkoba, hura-hura dll. Pemuda seolah-olah melegitimasi segala bentuk kemaksiatan pada hari itu.

============================
Perayaan tahun baru bukan dari Islam
============================

Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Pada mulanya perayaan ini dirayakan oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.

Di Brazil, mereka merayakan tahun baru dengan melakukan ritual penghormatan kepada dewa Lemanja—Dewa laut. Umat kristen sendiri merayakan tahun baru dalam bentuk mengadakan jamuan kudus (Sakramen Ekaristi). Jelaslah, tahun baru di beberapa tempat dalam perjalanannya identik dengan kebudayaan yang erat dengan aqidah tertentu sehingga seorang muslim harus meninggalkannya.

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Dalil keharamannya ada 2 (dua); Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104). Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda : ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud). Hadits ini sekaligus memperingatkan agar kaum muslim menjauhkan diri dari kebiasaan kaum di luar Islam.
Dalil yang mengharamkan muslim yang ikut merayakan hari raya kaum kafir yaitu :
dari Anas bin Malik ra. beliau berkata : Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”Dua hari apa ini?” Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasulullah Saw. bersabda :
”Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhha dan idul fithri.” [Shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasaî dan al-Hakim.]

Dengan demikian tanggal 1 Januari tidak layak mendapatkan pengagungan, apalagi perayaan, meski hanya dengan ucapan selamat. Sebab, semua aktivitas tersebut adalah bentuk kegembiraan atas momentum tertentu yang tidak disyariatkan. Terlebih, tanggal 1 Januari sudah identik dengan budaya di luar Islam.

Sehingga, perayaan, kegembiraan, ucapan selamat dan sejenisnya yang dilakukan semata-mata karena hadirnya 1 januari adalah bentuk pengekoran terhadap budaya di luar Islam. Kaum muslim haram melakukannya. Apa yang terjadi saat ini menjadi bukti kebenaran sabda Rasulullah Saw. Dari Abu Hurairah r.a , Rasulullah saw bersabda:
“Hari kiamat tak bakal terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persi dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR. Bukhari no. 7319)

====================================================
Perayaan Tahun Baru Menjerumuskan Indonesia kedalam Kemaksiatan
====================================================

Menjelang perayaan tahun baru, apotik-apotik dibanjiri oleh pembeli alat kontrasepsi berbentuk kondom, di Bekasi misalnya, salah satu apotik mengaku bahwa kondom di apotiknya terjual 10 pack per hari padahal sebelumnya hanya tiga pack dalam sehari dan kebanyakan pembelinya usia 20 tahun ke atas. (rimanews.com). Bukan hanya di Bekasi, di apotik kota-kota lainnya juga mengalami hal yang serupa. Ini membuktikan bahwa perayaan tahun baru hanya dijadikan ajang pesta seks oleh kaum muda-mudi Indonesia. Perlu diketahui, dosa zinah itu bukan hanya meliputi pelakunya tetapi orang yang tidak berzinapun memikul dosa, Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur : 2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
Kalau pelaku zinah sudah tentu mendapatkan dosa zinah, tetapi untuk orang selainnya mendapatkan dosa karena tidak memenuhi perintah-Nya untuk mendera pelaku zinah. Realitanya kita kan belum bisa menerapkan syariat-Nya, karena untuk menegakkan hukum tersebut yang berwenang adalah negara. Nah, masalahnya sekarang adalah apakah syariat Islam dilegalkan menjadi hukum negara?

Menurut kaidah ushul fiqih
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Kewajiban kita adalah menegakkan syariah Allah, karena tidak dilegalkan oleh negara sebagai hukum, maka menegakkan khilafah wajib hukumnya. Semoga kita diistiqomahkan dalam perjuangan syariah dan khilafah. [] bkim-ipb

Uwais al Qarni

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Subhanallah

Sabtu, 08 Agustus 2015

Meluruskan Sejarah

HOS Tjokroaminoto (1882-1934)

Khalifah adalah Milik Umat Islam Sedunia

Tanjung Priok. Mendengar nama pelabuhan yang berada di Jakarta paling utara itu tentu akan mengingatkan kaum Muslim terhadap tragedi makam Mbah Priok, seorang ulama penyebar Islam, beberapa waktu lalu yang menelan korban 144 orang luka, 3 orang tewas, dan 70 kendaraan habis dibakar.

Kaum Muslim pun kembali mengingat tragedi yang lebih dahsyat lagi yang terjadi 26 tahun lalu yakni pembantaian terhadap 400 warga termasuk Amir Biki, seorang dai penentang kedzaliman Orde Baru, oleh aparat militer pada 12 September 1984. Meskipun Panglima ABRI, saat itu, Jendral LB Moerdani menyebutkan bahwa korban tewas hanya 18 orang dan luka-luka 53 orang.

Namun adakah yang mengingat kejadian bersejarah 84 tahun lalu di Tanjung Priok? Yap, saat itu, para santri, ulama para pemimpin ormas Islam berkumpul di pelabuhan itu. Ada apa?

Mereka kumpul di sana untuk menyambut keberangkatan dua orang ulama perwakilan Nusantara untuk Kongres Khilafah di Mekah, salah seorang ulama yang diutus tersebut adalah HOS Tjokroaminoto.

Pejuang Khilafah

Kaum Muslim saat ini, sedikit sekali yang tahu bahwa ternyata Tjokroaminoto adalah seorang ulama yang menyadari bahwa kaum Muslim wajib bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah yang menerapkan Syariah Islam secara kaffah.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, begitulah nama lengkapnya. Lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882. Ia adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama RM Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintah saat itu. Kakeknya RM Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo.

Meski keturunan Soesoehoenan Pakoe Boewono II, ia bukanlah seorang priyayi yang tunduk patuh pada penjajah, bukan pula penganut Islam abangan. Karena ia adalah salah seorang ulama yang peka bahwa negerinya sedang dijajah, maka pada Mei 1912, ia bergabung dengan ormas Sjarikat Islam.

Dalam wadah tersebut ia gigih melawan penjajahan Keradjaan Protestan Belanda sehingga menjadi ulama yang sangat karismatik dan berpengaruh di Nusantara.

Saat itu, Keradjaan Protestan Belanda terus berupaya memberangus setiap upaya kebangkitan kaum Muslim untuk melawan penjajahan dan membuat makar agar kaum Muslim di Nusantara semakin menjauh dari Khilafah dan merasa bukan bagian dari umat yang satu di bawah panji Laailahaillallahu Muhammadarrasulullah.

Namun, semangat Tjokroaminoto untuk membela Syariah dan Khilafah tidak pernah pudar. Maka, tatkala Khilafah Islamiyah dihancurkan Inggris, melalui konspirasi jahatnya dengan Mustafa Kemal Laknatullah pada 3 Maret 1924, dunia Islam mengalami kegoncangan.

Upaya-upaya menegakkan kembali Khilafah pun dilakukan. Tidak ketinggalan juga ulama-ulama dari Indonesia, termasuk Tjokroaminoto. Pada 1 Juni 1926, diselenggarakan Kongres Khilafah di Mekah. Saat itu Indonesia mengirimkan 2 orang utusan, yaitu HOS Tjokroaminoto (Central Sjarikat Islam) dan KH Mas Mansur (Muhammadiyah).

Penunjukan mereka ditetapkan dalam Kongres Al Islam ke-4 di Yogyakarta  (21-27 Agustus 1925) dan Kongres ke-5 di Bandung (6 Februari 1926). Mereka berdua berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya, dengan kapal Rondo dan dielu-elukan oleh masyarakat. Sesampainya di Tanjung Priok, Jakarta, banyak pemimpin Islam yang menyambut mereka, bahkan memerlukan diri datang ke pelabuhan.

Sikap itu lahir dari keyakinan bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim. Umat Islam saat itu memandang Sultan Turki sebagai Khalifah. Bahkan Tjokroaminoto menyatakan bahwa khalifah bukan semata-mata untuk umat Islam di jazirah Arab, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia.

Ditegaskannya pula bahwa khalifah merupakan hak bersama sesama Muslim dan bukan dominasi bangsa tertentu. Lebih tegas lagi, Tjokroaminoto juga menyatakan selain dua kota suci Mekah dan Madinah, khalifah adalah milik umat Islam sedunia.

Makanya ia begitu semangat agar umat Islam di Indonesia mengutus perwakilannya ke Kongres. Tujuannya untuk “mempertoendjoekan moeka terhadap oemat Islam sedoenia”, dan “melakoekan segala oesaha jang ditimbang bergoena bagi oemat Islam di negeri kita”. Di samping itu, mencari keterangan mengenai kelanjutan pemilihan khalifah.

Ia memahami betapa vitalnya peranan khalifah bagi umat Islam. Maka, ia menganalogikan umat Islam laksana suatu tubuh. Karenanya, bila umat Islam tidak memiliki khalifah maka, “seolah-olah badan tidak berkepala”.

Namun sangat disayangkan pada Kongres Khilafah yang ke-2, saat itu Nusantara diwakili Hadji Agoes Salim (Sjarikat Islam) hasilnya sangat mengecewakan dan berdampak buruk hingga detik ini.

Pasalnya tuan rumah yakni, Raja Saud, yang merupakan antek penjajah Inggris itu, tidak menginginkan dibicarakannya masalah khilafah dalam kongres tersebut. Sehingga kongres tersebut gagal.

Penentang Penjajah

Tidak aneh bila Saud bersikap demikian, karena jauh hari sebelum Khilafah Turki Utsmani roboh, pada saat ia menjadi Wali (Gubernur) salah satu wilayah di Timur Tengah (kini wilayah tersebut disebut Kerajaan Saudi Arabia) ia bersekongkol dengan Keradjaan Protestan Inggris untuk memberontak kepada khalifah kemudian menyatakan diri sebagai raja.

Sedangkan di Indonesia, menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, umat Islam menjadi tertindas diakibatkan kehilangan 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Dilemahkan eksistensinya dengan cara dipaksa untuk menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).

Sehingga, meski tetap bergelar sultan, namun tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan istana, bersama kerabatnya, sultan terima gaji dari pemerintah kolonial Belanda.

Dalam kondisi sosial politik seperti itulah Tjokroaminoto bangkit membangun kesadaran umat untuk melawan penjajahan Belanda. Maka ia pun berseru:

Tidak bisa manoesia mendjadi oetama jang sesoenggoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia mendjadi besar dan moelia dalam arti kata jang sebenarnja, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soetji dan oetama, kalau ada banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja.

Keotamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa tertjapai karena “Tauhid” sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin: Tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja.

Ia pun mengkristalisasi ajaran Rasulullah SAW ke dalam paradigma Lima K yakni kemauan, kekuatan, kemenangan, kekuasaan, dan kemerdekaan. Cita-cita persatuannya ialah Innamal Mukminun Ihwatun dan motto juangnya adalah Billahi fi Sabilil Haq.

Tjokroaminoto memprioritaskan membangun kekuatan dari kemauan umat. Nusantara Indonesia boleh saja diduduki oleh penjajah, tetapi tidaklah berarti telah terkalahkan pula kemauan umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia. Apabila umat Islam telah bangkit kemauannya maka akan memiliki kekuatan yang tidak terhingga.

Penjajah memahami itu, bahkan merumuskan terori yang disebut dengan teori Carl von Clausewitz, On War, bahwa untuk memenangkan perang, maka yang harus diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of the enemy’s will (penghancuran kemauan lawan).

Maka dengan Sjarikat Islamnya, Tjokroaminoto berhasil membangun kemauan umat untuk melawan penjajahan Belanda. Saat ini Belanda telah pergi, namun Indonesia belum benar-benar merdeka karena masih dijajah oleh Amerika.

Lantas sekarang rakyat Indonesia maunya apa? Tunduk patuh pada Amerika atau bangkit melawan dengan menegakkan Syariah dan Khilafah?[]