Rabu, 30 Desember 2015

Nama Setan

Nama-Nama Setan dan Tugasnya Ketika Menyesatkan Manusia


Setan merupakan makhluk pembangkang yang pekerjaan utamanya mengajak manusia menuju jalan kesesatan. Mereka akan melakukan segala cara untuk mencari sebanyak-banyaknya teman ke neraka saat  hari kiamat kelak

Jumlah setan akan terus bertambah sejak diciptakannya sampai dengan kiamat tiba. Mereka tidak pernah mengalami kematian layaknya manusia. Itulah mengapa saat ini semakin mudah dijumpai kemaksiatan yang merajarela.

Layaknya organisasi, setan pun memiliki tugas dan tanggungjawab ketika menggoda manusia. Mereka memiliki nama dengan tugas masing-masing yang berbeda-beda. Siapa sajakah nama setan tersebut dan apa tugas mereka? Berikut ini ulasannya.

1. Wahhar
Wahhar merupakan nama setan yang menjadi tentara iblis. Setan yang satu ini memiliki tugas untuk mengganggi para mukmin ketika sedang bermimpi. Adapun hal-hal yang sering dilakukannya adalah dengan menimbulkan kesedihan serta ketakutan ketika bermimpi. Oleh sebab itu, ada baiknya ketika hendak tidur untuk terlebih dahulu mengambil wudhu, berdzikir dan membaca doa sebelum tidur agar terhindar dari gangguan setan.

2. Tamrih
Nama setan selanjutnya adalah Tamrih. Setan yang satu ini merupakan pembantu iblis yang bertugas untuk membisikan hal-hal jahat di telinga manusia. Jadi setiap perbuatan yang dilakukan oleh umat manusia bersumber dari bisikan setan yang bernama Tamrih ini.

3. Ruhaa
Kita tentu sering merasa malas untuk mengerjakan shalat tahajud atau bahkan malas bangun untuk menunaikan shalat subuh. Kejadian seperti ini merupakan tugas dari setan yang bernama Ruhaa. Ia merupakan jenis jin yang mencegah para mukmin untuk bangun malam dan mengikat tiga ikatan saat seorang tidur.

4. Masuth (Mathuun)
Masuth adalah nama setan selanjutnya yang bertugas untuk menggoda manusias melalui lidahnya. Godaan tersebut dalam bentuk berita bohong, perkataan keji, hingga perkataan yang menyakitkan lainnya. Tugas setan yang satu ini sangat berpotensi untuk memecah belah persatuan serta kerukunan antar manusia.

5. Khinzib
Pernahkanh anda merasa mengantuk ketika sedang melaksanakan shalat? Berarti pada saat itu anda sedang diganggu oleh jin yang bernama khinzib. Ia bertugas untuk menggoda manusia ketika sedang shalat. Ia yang membuat kita lupa rakaat shalat, sering menggelincirkan lidah sehingga salah membaca suatu surat yang kita hapal.

Ada seorang sahabat Rasulullah yang mengadu gangguan yang dialami ketika shalat. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “ Itu adalah setan. Namanya Khinzib. Jika kamu diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke kiri tiga kali”.

Kemudian Ustman berkata “ Aku pun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim. No. 2203).

6. Dasim
Dasim adalah salah satu nama setan yang bertugas untuk membuat seseorang lupa mengucapkan salam ketika memasuki rumah serta untuk tidak mengingat Allah. Tidak hanya itu, Dasim ini juga membat orang tidak membaca Basmallah ketika hendak makan. Jika seseorang makan tanpa membaca bismillah, maka ia makan bersama dengan setan tersebut. Oleh sebab itu, memang sudah seharusnya kita selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun agar tidak mudah digoda oleh setan dan kelompoknya.

7. Watsin
Watsin adalah nama setan selanjutnya yang bertugas untuk merusak hati dan akal hingga rusak akhlak dan iman. Karena itu ia dan kelompoknya diberi tugas menggoda bagi manusia yang tengah ditimpa musibah. Orang yang ditimpa musibah ini lebih mudah untuk digoda karena pikiran mereka yang masih kalut sehingga membuat mereka tidak bisa berfikir jernih dalam menyikapi sesuatu.

8. Awan
Nama setan terakhir adalah Awan, ia memiliki tugas untuk menggoda para penguasa agar menjadi orang yang dzolim dan mendzolimi manusia lainnya. Ia akan terus menggoda manusia sehingga mereka akan ikut bersamanya menuju jalan kebatilan.

Minggu, 27 Desember 2015

Kehilangan Itu Biasa, Nak!

Ada yang tidak biasa di pagi hari ini. Suasana rumah yang biasanya hangat, agak mendung karena suara tangisan lembut terdengar di sudut rumah.
Pagi ini, 2 peliharaan anakku hilang. Wenny dan Ecky. Duo anak kucing yang selalu jadi motivasi anak-anak bermain di luar tiba-iba tidak nampak batang hidungnya sejak semalam. Otomatis, pagi ini rumah dipenuhi nuansa melankolis.

Memang, dengan peliharaan anak-anak belajar bagaimana memenuhi tuntutan naluri berkasih sayangnya. Mereka berlatih menyayangi, bertanggingjawab bahkan berlatih bagaimana menjadi makhluq berakal: lahir, tumbuh, berkembang, bertanggungjawab atas pilihan.

Setiap manusia memang terlahir dengan potensi akal dan naluri-naluri(Gharaiz). Dan potensi naluri salah satunya adalah Naluri nau'(naluri berkasih sayang).
Jika seorang dewasa, memenuhi naluri ini terhadap pasangan suami-istri. Tapi joka seorang anak, bukan hal yang wajar jika nalurinya didominasi pada lawan jenis. Karena seharusnya nalurinya dominan kepada orang tuanya terutama ibunya, adiknya, kakaknya,keluarganya, bahkan dengan binatang peliharaan termasuk bisa diarahkan sebagai bentuk pemenuhannya.
Oleh karena itu, tugas orang tua sebenarnya untuk menjauhkan munculnya tuntutan naluri kasih sayang pada anak kepada lawan jenis. Karena belumlah tepat waktu untuk bisa menempatkan naluri pada lawan jenis.

Orang tua bertanggungjawab,jika anak salah menempatkan naluri kasihsayang justu kepada lawan jenis. Karena naluri kasih sayang terhadap lawan jenis sebenarnya hanya diperunukkan untuk pasangan suami istri semata.

Bayangkan jika peradaban manusia saat ini didominasi pada naluri kasih sayang pada lawan jenis, baik orang dewasa, pelajar, maupun anak-anak. Maka jadilah kerusakan demi kerusakan terjadi. Produktifitas berkurang, dominasi kehidupan hanya pada seksualitas dan hubungan lawan jenis ada dalam setiap bentuk interaksi.

Peradaban pada akhirnya menghadapi dilema kerusakan. Anak-anak sudah kenal rasa tertarik pada lawan jenis, pelajar tidak ptoduktif, suami-istri saling selingkuh, bahlan prang tua banyak yang dilupakan anak mereka.

Islam merupakan pengaturan terbaik bagi manusia. Indahnya islam tak terkalahkan dalam sistem kehidupan manapun.

Sabtu, 26 Desember 2015

Jangan Menunda

#Muhasabah

Dari Abu Ishaq ada yang berkata kepada seseorang dari Abdul Qois " Nasehatilah kami". kemudian ia berkata "Hati 'hatilah dengan sikap menunda nunda (nanti dan nanti)".

ketika menunda kebaikan belum tentu di lain waktu mendapatkan kesempatanya untuk melakukan kebaikan lagi, karena kebaikan yang dilakukan sekarang akan di akumulasi dengan kebaikan-kebaikan berikutnya. Jika kita tidak melakukan kebaikan yang diberikan sekarang tentu sangat merugi.

Suka menunda adalah kebiasaan orang yang malas dan tidak menghargai waktu, padahal waktu yang sudah berlalu tidak dapat kembali lagi.

Muhasabah

Kebanyakan manusia banyak yang mau bersusah payah demi dunia ,tapi enggan bersusah untuk akhiratnya.

Berjuang mendapatkan keinginannya tapi lupa akan hisab setelahnya.

Berani menapaki kehidupan tapi enggan menyiapkan jalan menuju kematian.

Memimpikan kemuliaan dan sanjung puji tapi melalaikan muhasabah diri.

Merasa diri hebat padahal dia sejatinya hanyalah hamba.

Berani bertaruh untuk kekayaan tapi lupa bahwa harta hanyalah tiipan juga ujian.

Berani mengaku muslim tapi syariat saja tidak mengetahui.

Apalah kita, hina dan tak bernilai jika hanya mengandalkan kesombongan diri.

Allah menguji kita dengan keterbatasan diri ini, seharusnya kita berani introspeksi, muhasabah diri seberapa kuat diri kita hingga kita berani menilai orang lain.
Jangan marah jika diberi nasihat.
Ikhlas jika beramal, dan jauhi murka Allah karena keangkuhan kita..
Bersandarlah hanya pada Allah

Kita bukan siapa-siapa....kita hanya hamba yang seharusnya hanya taat, taat dan taat.
Berlarilah untuk terus memahami syariatNya.
Marahlah jika hukum Allah dicampakkan.
Berbaiklah pada saudara muslim karena aqidah kita sama.
Dan seharusnya, perjuangan kita juga sama...bukan untuk dunia tapi untuk meninggikan agama Allah.

#Muhasabah

Nasihat Syeikh Taqiyuddin an Nabhani

Nasihat Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani tentang Berpikir atas Teks-teks Politik

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah menyatakan:

“Banyak orang membaca tetapi tidak berpikir (tentang apa yang dibacanya). Banyak pula yang membaca dan berpikir, namun proses berpikirnya tidak lurus dan tidak dapat menjangkau pemikiran-pemikiran yang diekspresikan oleh kalimat-kalimat (yang dibaca).”

Dengan kata lain, bacaan (teks) hanya sekedar ungkapan pemikiran, dan bukan pemikiran itu sendiri. Oleh karena itu, orang justru keliru jika menyangka bahwa masyarakat (termasuk Indonesia) dapat dibangkitkan hanya dengan diajari membaca dan menulis.

Bacaan tidak dapat memberikan apapun bagi proses berpikir. Termasuk juga tidak dapat digunakan untuk membangkitkan dorongan apa pun untuk berpikir. Sebab, proses berpikir diwujudkan melalui fakta terindera dan informasi awal yang berkaitan dengannya.

Bacaan bukanlah fakta terindera, bukan pula informasi awal. Bacaan (teks) hanyalah ekspresi pemikiran atau sekedar “wadah” yang digunakan untuk menampung pemikiran. Jadi, bukan pemikiran itu sendiri.

Jika seorang pembaca dapat memahami dengan baik maksud berbagai ungkapan tentang pemikiran dalam teks sehingga dia dapat menangkap pemikiran-pemikirannya, itu karena pemahamannya terhadap teks cukup baik, bukan karena semata-mata membaca. Jika pembaca tersebut tidak memahami teks dengan baik, tidak akan ada pemikiran apa pun yang  didapat, sekali pun dia telah membacanya berjam-jam.

Jadi, berpikir terhadap teks-teks (tulisan) itu penting dipahami, agar dapat memahami teks dengan baik. Termasuk teks (tulisan) tentang politik.

Teks politik itu ada dua jenis, yaitu teks yang terdapat dalam literatur-literatur politik dan teks yang terdapat dalam berita-berita politik. Dari membaca teks-teks politik itulah berpikir politis dimulai.

Jika teks politik itu terdapat dalam literatur ilmu politik (misalnya perbandingan sistem pemerintahan), maka proses berpikirnya hampir sama dengan proses memahami teks-teks tentang pemikiran. Contoh: untuk memahami teks ilmu politik tentang pemisahan kekuasaan, maka kita tidak bisa mencukupkan diri membuat gambaran tentang bahaya sentralisasi kekuasaan (misalnya) sentralisasi kekuasaan pada masa Orde Baru. Akan tetapi, kita harus membayangkan sentralisasi kekuasaan di negara-negara Eropa, khususnya Prancis. Sebab, Montesquieu-lah yang merupakan tokoh pemikir tentang pemisah kekuasaan pemerintahan.

Lalu, jika kita membaca teks-teks berita politik, maka (menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani), hal ini adalah berpikir yang paling sulit. Sebab, ini adalah aktivitas berpikir atas segala peristiwa, di samping melibatkan semua jenis aktivitas berpikir, mulai dari berpikir terhadap teks-teks pemikiran, teks-teks hukum, dan sebagainya. Selain itu, juga karena tidak adanya kaidah atau patokan yang dapat digunakan di dalamnya. Selama seorang pemikir atau politisi jarang mengamati berbagai berita politik, teks ilmu politik, dan jarang beraktivitas politik, kurang cermat dalam memahami teks-teks, maka akan sulit baginya untuk berpikir politis. Jadi, hal ini memang sangat sulit.

Karena itu, orang yang ingin pintar berpikir politis, ia harus selalu mengikuti berbagai macam berita dan peristiwa politik dari berbagai media massa seperti koran, radio, televisi, atau internet; bukan membaca teks-teks pemikiran politik.

Memang, membaca teks-teks pemikiran politik akan membantu seseorang berpikir politis dalam memahami berita politik. Tetapi, ini bukan keharusan. Banyak memahami teks-teks pemikiran politik hanya akan menjadikan seseorang menguasai pemikiran politik. Orang seperti ini lebih layak menjadi dosen ilmu politik daripada seorang politisi.

sumber: DakwahMedia

Tahun Baru

Mengenal Perayaan Tahun Baru Masehi Yuk!

Semua kalangan dari kota-kota besar hingga di desa yang sedikit metropolitan seolah tidak ada kata ‘absen’ untuk perayaan setiap tanggal 1 Januari. Hari spesial yang hanya ditemui setahun sekali ini ternyata dirayakan oleh banyak orang di dunia. Libur panjang yang beriringan dengan Natal bahkan bertepatan dengan liburan sekolah menambah riuh orang-orang yang berkeinginan melalui pergantian tahun itu dengan berbagai kegiatan spesial. Di Indonesia, perayaan tahun baru identik dengan kembang api dan terompet. Bukan hanya itu, malah perayaan tahun baru identik juga dengan berbagai bentuk kemaksiatan dan kriminalitas seperti free sex, pesta narkoba, hura-hura dll. Pemuda seolah-olah melegitimasi segala bentuk kemaksiatan pada hari itu.

============================
Perayaan tahun baru bukan dari Islam
============================

Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Pada mulanya perayaan ini dirayakan oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.

Di Brazil, mereka merayakan tahun baru dengan melakukan ritual penghormatan kepada dewa Lemanja—Dewa laut. Umat kristen sendiri merayakan tahun baru dalam bentuk mengadakan jamuan kudus (Sakramen Ekaristi). Jelaslah, tahun baru di beberapa tempat dalam perjalanannya identik dengan kebudayaan yang erat dengan aqidah tertentu sehingga seorang muslim harus meninggalkannya.

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Dalil keharamannya ada 2 (dua); Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104). Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda : ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud). Hadits ini sekaligus memperingatkan agar kaum muslim menjauhkan diri dari kebiasaan kaum di luar Islam.
Dalil yang mengharamkan muslim yang ikut merayakan hari raya kaum kafir yaitu :
dari Anas bin Malik ra. beliau berkata : Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”Dua hari apa ini?” Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasulullah Saw. bersabda :
”Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhha dan idul fithri.” [Shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasaî dan al-Hakim.]

Dengan demikian tanggal 1 Januari tidak layak mendapatkan pengagungan, apalagi perayaan, meski hanya dengan ucapan selamat. Sebab, semua aktivitas tersebut adalah bentuk kegembiraan atas momentum tertentu yang tidak disyariatkan. Terlebih, tanggal 1 Januari sudah identik dengan budaya di luar Islam.

Sehingga, perayaan, kegembiraan, ucapan selamat dan sejenisnya yang dilakukan semata-mata karena hadirnya 1 januari adalah bentuk pengekoran terhadap budaya di luar Islam. Kaum muslim haram melakukannya. Apa yang terjadi saat ini menjadi bukti kebenaran sabda Rasulullah Saw. Dari Abu Hurairah r.a , Rasulullah saw bersabda:
“Hari kiamat tak bakal terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persi dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR. Bukhari no. 7319)

====================================================
Perayaan Tahun Baru Menjerumuskan Indonesia kedalam Kemaksiatan
====================================================

Menjelang perayaan tahun baru, apotik-apotik dibanjiri oleh pembeli alat kontrasepsi berbentuk kondom, di Bekasi misalnya, salah satu apotik mengaku bahwa kondom di apotiknya terjual 10 pack per hari padahal sebelumnya hanya tiga pack dalam sehari dan kebanyakan pembelinya usia 20 tahun ke atas. (rimanews.com). Bukan hanya di Bekasi, di apotik kota-kota lainnya juga mengalami hal yang serupa. Ini membuktikan bahwa perayaan tahun baru hanya dijadikan ajang pesta seks oleh kaum muda-mudi Indonesia. Perlu diketahui, dosa zinah itu bukan hanya meliputi pelakunya tetapi orang yang tidak berzinapun memikul dosa, Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur : 2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
Kalau pelaku zinah sudah tentu mendapatkan dosa zinah, tetapi untuk orang selainnya mendapatkan dosa karena tidak memenuhi perintah-Nya untuk mendera pelaku zinah. Realitanya kita kan belum bisa menerapkan syariat-Nya, karena untuk menegakkan hukum tersebut yang berwenang adalah negara. Nah, masalahnya sekarang adalah apakah syariat Islam dilegalkan menjadi hukum negara?

Menurut kaidah ushul fiqih
مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Kewajiban kita adalah menegakkan syariah Allah, karena tidak dilegalkan oleh negara sebagai hukum, maka menegakkan khilafah wajib hukumnya. Semoga kita diistiqomahkan dalam perjuangan syariah dan khilafah. [] bkim-ipb

Bila Allah Membongkar Aib


BILA ALLAH MEMBONGKAR AIB SANG HAMBA?

Allah membongkar aib-aib hambnya dalam dua kondisi :

(1) Jika sang hamba mencari-cari kesalahan saudaranya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من اتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع الله عورته يفضحه في بيته

((Janganlah kalian mencari-cari kesalahan-kesalahan kaum muslimin, karena barang siapa yang mencari-cari kesalahan mereka maka Allah akan menelusuri kesalahan-kesalahannya, dan barang siapa yang ditelusuri kesalahannya oleh Allah maka Allah akan membongkarnya (meskipun) dia di dalam rumahnya sendiri))
(HR Abu Dawud no 4880)

(2) Jika sang hamba terlalu sering melakukan dosa-dosa secara sembunyi-sembunyi maka Allah akan membongkarnya sebagai pelajaran untuk yang lainnya. Jika satu aib kita atau satu dosa kita saja dibongkar oleh Allah maka mau taruh di mana wajah kita ini....??
Orang-orang yang selama ini menghargai atau menghormati kita maka akan menjauhi kita.... sahabat dekat akan menjauh...
bahkan memusuhi...,
Diantara doa Nabi shallallahu 'alahi wa sallam :

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي

Yaa Allah tutuplah aib-aibku...
(HR Ibnu Maajah no 3871 dan Ibnu Hibbaan no 957)

Demikian semoga kita terus senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dan menjauhi segala laranganNya Insya Allah.