Kamis, 13 Agustus 2015

Untuk Sebuah Peran

Menikmati peran, laksana menikmati hidangan di atas meja. Gambaran yang asimetris.

Tidak mudah setiap peran dijalani, tanpa ada dedikasi pada syariat atau pada sudut pandang khas. Meski sejatinya peran itupun lahir untuk identitas ketundukan.

Menjadi pelaksana peran layaknya pekerja rodi yang dalam kondisi apapun peran itu mesti dijalankan. Apapun kondisinya. Susah, senang, sakit, sehat bahkan terluka parah sekalipun.
Itulah tanggung jawab. Itulah suatu dedikasi tanpa batas.

Tinggal masalahnya, mampukan manusia memiliki cara pandang seperti itu memahami perannya? Karena step awal yang seharusnya dilakukan adalah belajar memahami peran dan berlatih untuk sebuah dedikasi.

Kita bisa, jika kita yakin dan berusaha.

14Agustus15
🌷De.Umsyah

Renungan Kemerdekaan

#MERDEKA

Kalimat singkat yang perlu direnungkan kembali....

"Sejarah Nusantara tidak bermula sejak 17 Agustus 1945, jadi jangan samakan Indonesia dengan sejarah sebelum '45"

"Yang berjuang mengangkat senjata di negeri ini bukan kaum nasionalis, tapi rakyat di bawah kesultanan Islam"

"Siapa yang menggerakkan rakyat mengusir penjajah Belanda dan Jepang sebelum ada presiden RI 1 di Indonesia?

"Pasca 17 Agustus, apakah sudah merdeka secara fisik? "

"17 Agustus lebih tepat digunakan sebagai pengakuan luar negeri terhadap Indonesia, setelahnya penjajah berubah dari mengangkat senjata menjadi duduk di perundingan"

"Dimana kaum nasionalis sebelum tahun '45? Apakah ikut mengusir penjajah di negeri ini atau mereka bersekolah di luar negeri?"

Jawab sendiri, renungkan, jika ngga nemu jawaban, cari sejarah yang obyektif agar kita tidak melakukan kesalahan dua kali: ga paham sejarah, salah bersikap.😊

#Mikir 
*Status FB

14Agt15
🌷De.Umsyah

Kontemplasi Kemerdekaan

👉✌Bukan anti pada hari KEMERDEKAAN, hanya perlu merevisi pemahaman saja.

Perayaan kemerdekaan negeri ini, seringkali menjadi bentuk pelegalan aktivitas keharaman. Ikhtilat/ campur baur dalam acara karnaval, festival-festival, hingga perlombaan yang tidak ada hubungannya dengan esensi kemerdekaan.

Kita lebih berbangga merasakan perayaan daripada sibuk mikir mau berbuat apa untuk negara ini.

Atau kita sibuk kibarkan bendera dibanding menengok seberapa banyak bendera asing bercokol di negeri ini.

Kita lebih sibuk upacara sementara 'tamu luar negeri' menjarah negeri ini pun kita sambut dengan suka cita.

Kita lebih repot mempersiapkan atribut balap karung sementara di semua lini kita tertinggal, rupiah melemah, harga daging tidak masuk akal, harga cabe mahal dan semuanya itu lupa kita pikirkan.

Kita lebih suka mengeluh menerima daripada keras memperjuangkan perubahan.

Kita lebih suka menghujat kemiskinan kita daripada mencari solusi untuk semua saudara kita yang kelaparan.

Kita lebih sering mengatakan manut, nrimo saja daripada kritis menelaah kenapa masalah menimpa kita bertubi-tubi.

Kita lebih memilih diam dan pasif daripada berjalan kearah penguasa sang pembuat aturan negeri ini dan memuhasabahinya.

Kita lebih suka nonton penangkapan KPK atas pejabat korup daripada kita datang ke dewan dan menyampaikan keluhan rakyat kita.

Kita lebih suka merasakan harga mahal daripada kita sibuk mencari tau kenapa semua harga barang di negeri ini merangkak naik.

Ada apa dengan KITA?
Jika dikatakan MERDEKA, kenapa mata, kaki, lidah, tangan dan semua organ kita dikendalikan pihak lain bukan diri kita sendiri.

#CatatanPagi

14Agt15
🌷De.Umsyah

Senin, 10 Agustus 2015

Audiensi MHTI Cilacap ke Ibu Bupati

Reportase Kegiatan

Silaturahim Syawal MHTI Cilacap ke rumah dinas Bupati Cilacap ,diterima dengan ramah oleh ibu Bupati Cilacap pada Selasa tanggal 4 Agustus 2015.
Pengurus MHTI Cilacap yang terdiri dari Ummu Syahidah, Karnia Widiasih, S.Pd, Wahyu Titis L, S.Si.Apt, Dwi Suryaningsih selain menyampaikan ucapan dan doa Syawal juga berdiskusi dengan ibu Bupati mengenai beberapa permasalahan umat di Cilacap. Diantaranya masalah pembangunan tempat-tempat hiburan yang kian marak, masuknya tenaga kerja asing ke Cilacap, masalah investasi, pengelolaan kekayaan alam hingga kasus HIV/AIDS,TKW dan Cilacap Singapore of the Java dan pemekaran.
Diskusi berlangsung dan diakhir pembicaraan delegasi MHTI mengajukan beberapa draf solusi Islam dalam beberapa masalah di Indonesia dan berharap bisa dijadikan referensi Bupati dalam membuat perda.
Delegasi MHTI pun berharap kedatangannya kali ini sebagai bentuk perwakilan umat dan masyarakat di Cilacap dalam memberikan saran, masukan juga muhasabah kepada penguasa.

Audiensi MHTI Cilacap ke Muslimah al Irsyad

Reportase Kegiatan

Kunjungan MHTI Cilacap kepada Lajnah Muslimah al Irsyad kabupaten Cilacap dilaksanakan pada hari Senin, 3 Agustus 2015.
Bertempat di kediaman ibu Ni'mahBawazir, perwakilan pengurus MHTI yang terdiri dari Ummu Syahidah, Karnia Widiasih, S.Pd, Wahyu Titis L, S.Si.Apt dan Dinda Puti, S.Si diterima dengan hangat oleh pengurus Muslimah al Irsyad yang terdiri dari ibu Ni'mah Bawazir, Annisa Bawazir dan Firial.
Kunjungan ini selain dalam rangka meningkatkan ukhuwah dan silaturahim di bulan Syawal, juga mendiskusikan problem umat Islam pada umumnya dan problem keumatan di Cilacap pada khususnya.
Diskusi berlangsung cukup panjang mulai dari membahas tragedi Tolikara dan toleransi umat beragama, masalah politik, ekonomi, sosial hingga pemerintahan juga sistem demokrasi.
Dan dengan diskusi ini, ada kesamaan pandangan bahwa kan kondisi umat islam saat ini memang sedang mengalami krisis multidimensi, sehingga harus ada kesatuan pandangan diantara ormas islam dan parpol yang konsisten dengan permasalahan umat dengan meningkatkan peran dalam memuhasabah penguasa. Karena penguasa adalah tameng terdepan dan juga penerap kebijakan di tengah masyarakat.
Penguasa tidak bisa berjalan sendiri apalagi dengan mencampakkan aturan Allah. Disinilah peran ulama,ormas dan parpol islam untuk bersinergi membangun kekuatan dalam upaya perjuangan terterapkannya syariat.

Audiensi MHTI Cilacap ke Wabup

Reportase Kegiatan

Kunjungan MHTI Cilacap ke Ibu Wakil Bupati Cilacap
Bertempat di rumah dinas Wakil Bupati Cilacap, pengurus DPD 2 MHTI Cilacap yang terdiri dari Ummu Syahidah, Karnia Widiasih,S.Pd, Wahyu Titis L, S.Si.Apt, Dinda Puti, S.Si disambut langsung dengan hangat oleh ibu Akhmad Edi Susanto (Wabup). Pada Kamis, 30 Juli 2015.
Silaturahim ini berlangsung selama 1,5 jam membahas tentang problem keumatan. Baik dari masalah dampak MEA terhadap masyarakat Cilacap, investasi, premanisme, korupsi, hingga tragedi Tolikara pun dibahas.
Disela waktu menuju tempat kerja, bapak Wakil Bupati ikut menyambut kehadiran pengurus MHTI dan menyempatkan ikut berdiskusi dengan menambahkan data-data serta analisa bahwa sebenarnya Cilacap merupakan kabupaten yang sangat kaya, bahkan jika dikelola dengan baik dari satu perusahaan pertamina saja, keuntungan daerah sangatlah  cukup untuk membiayai sekolah semua anak SD hingga universitas dengan gratis di Cilacap. Meski saat ini kendala sistemik juga menjadi penghalang terbesar.
Beliau juga menyebutkan bahwa "Jika sebenarnya menejernya Allah, menjemennya al Quran, maka semuanya bisa diselesaikan"
Dan hal ini semestinya dijalankan oleh pemerintah.
Di akhir kunjungan, ibu Wakil Bupati menyampaikan agar MHTI terus menjalin ukhuwah dengan pemerintah dan ormas lainnya, sehingga sinergisme penguasa dengan ormas dan ulama senantiasa terbangun.

@dt

Sabtu, 08 Agustus 2015

Meluruskan Sejarah

HOS Tjokroaminoto (1882-1934)

Khalifah adalah Milik Umat Islam Sedunia

Tanjung Priok. Mendengar nama pelabuhan yang berada di Jakarta paling utara itu tentu akan mengingatkan kaum Muslim terhadap tragedi makam Mbah Priok, seorang ulama penyebar Islam, beberapa waktu lalu yang menelan korban 144 orang luka, 3 orang tewas, dan 70 kendaraan habis dibakar.

Kaum Muslim pun kembali mengingat tragedi yang lebih dahsyat lagi yang terjadi 26 tahun lalu yakni pembantaian terhadap 400 warga termasuk Amir Biki, seorang dai penentang kedzaliman Orde Baru, oleh aparat militer pada 12 September 1984. Meskipun Panglima ABRI, saat itu, Jendral LB Moerdani menyebutkan bahwa korban tewas hanya 18 orang dan luka-luka 53 orang.

Namun adakah yang mengingat kejadian bersejarah 84 tahun lalu di Tanjung Priok? Yap, saat itu, para santri, ulama para pemimpin ormas Islam berkumpul di pelabuhan itu. Ada apa?

Mereka kumpul di sana untuk menyambut keberangkatan dua orang ulama perwakilan Nusantara untuk Kongres Khilafah di Mekah, salah seorang ulama yang diutus tersebut adalah HOS Tjokroaminoto.

Pejuang Khilafah

Kaum Muslim saat ini, sedikit sekali yang tahu bahwa ternyata Tjokroaminoto adalah seorang ulama yang menyadari bahwa kaum Muslim wajib bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah yang menerapkan Syariah Islam secara kaffah.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, begitulah nama lengkapnya. Lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882. Ia adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama RM Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintah saat itu. Kakeknya RM Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo.

Meski keturunan Soesoehoenan Pakoe Boewono II, ia bukanlah seorang priyayi yang tunduk patuh pada penjajah, bukan pula penganut Islam abangan. Karena ia adalah salah seorang ulama yang peka bahwa negerinya sedang dijajah, maka pada Mei 1912, ia bergabung dengan ormas Sjarikat Islam.

Dalam wadah tersebut ia gigih melawan penjajahan Keradjaan Protestan Belanda sehingga menjadi ulama yang sangat karismatik dan berpengaruh di Nusantara.

Saat itu, Keradjaan Protestan Belanda terus berupaya memberangus setiap upaya kebangkitan kaum Muslim untuk melawan penjajahan dan membuat makar agar kaum Muslim di Nusantara semakin menjauh dari Khilafah dan merasa bukan bagian dari umat yang satu di bawah panji Laailahaillallahu Muhammadarrasulullah.

Namun, semangat Tjokroaminoto untuk membela Syariah dan Khilafah tidak pernah pudar. Maka, tatkala Khilafah Islamiyah dihancurkan Inggris, melalui konspirasi jahatnya dengan Mustafa Kemal Laknatullah pada 3 Maret 1924, dunia Islam mengalami kegoncangan.

Upaya-upaya menegakkan kembali Khilafah pun dilakukan. Tidak ketinggalan juga ulama-ulama dari Indonesia, termasuk Tjokroaminoto. Pada 1 Juni 1926, diselenggarakan Kongres Khilafah di Mekah. Saat itu Indonesia mengirimkan 2 orang utusan, yaitu HOS Tjokroaminoto (Central Sjarikat Islam) dan KH Mas Mansur (Muhammadiyah).

Penunjukan mereka ditetapkan dalam Kongres Al Islam ke-4 di Yogyakarta  (21-27 Agustus 1925) dan Kongres ke-5 di Bandung (6 Februari 1926). Mereka berdua berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya, dengan kapal Rondo dan dielu-elukan oleh masyarakat. Sesampainya di Tanjung Priok, Jakarta, banyak pemimpin Islam yang menyambut mereka, bahkan memerlukan diri datang ke pelabuhan.

Sikap itu lahir dari keyakinan bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim. Umat Islam saat itu memandang Sultan Turki sebagai Khalifah. Bahkan Tjokroaminoto menyatakan bahwa khalifah bukan semata-mata untuk umat Islam di jazirah Arab, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia.

Ditegaskannya pula bahwa khalifah merupakan hak bersama sesama Muslim dan bukan dominasi bangsa tertentu. Lebih tegas lagi, Tjokroaminoto juga menyatakan selain dua kota suci Mekah dan Madinah, khalifah adalah milik umat Islam sedunia.

Makanya ia begitu semangat agar umat Islam di Indonesia mengutus perwakilannya ke Kongres. Tujuannya untuk “mempertoendjoekan moeka terhadap oemat Islam sedoenia”, dan “melakoekan segala oesaha jang ditimbang bergoena bagi oemat Islam di negeri kita”. Di samping itu, mencari keterangan mengenai kelanjutan pemilihan khalifah.

Ia memahami betapa vitalnya peranan khalifah bagi umat Islam. Maka, ia menganalogikan umat Islam laksana suatu tubuh. Karenanya, bila umat Islam tidak memiliki khalifah maka, “seolah-olah badan tidak berkepala”.

Namun sangat disayangkan pada Kongres Khilafah yang ke-2, saat itu Nusantara diwakili Hadji Agoes Salim (Sjarikat Islam) hasilnya sangat mengecewakan dan berdampak buruk hingga detik ini.

Pasalnya tuan rumah yakni, Raja Saud, yang merupakan antek penjajah Inggris itu, tidak menginginkan dibicarakannya masalah khilafah dalam kongres tersebut. Sehingga kongres tersebut gagal.

Penentang Penjajah

Tidak aneh bila Saud bersikap demikian, karena jauh hari sebelum Khilafah Turki Utsmani roboh, pada saat ia menjadi Wali (Gubernur) salah satu wilayah di Timur Tengah (kini wilayah tersebut disebut Kerajaan Saudi Arabia) ia bersekongkol dengan Keradjaan Protestan Inggris untuk memberontak kepada khalifah kemudian menyatakan diri sebagai raja.

Sedangkan di Indonesia, menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, umat Islam menjadi tertindas diakibatkan kehilangan 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Dilemahkan eksistensinya dengan cara dipaksa untuk menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).

Sehingga, meski tetap bergelar sultan, namun tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan istana, bersama kerabatnya, sultan terima gaji dari pemerintah kolonial Belanda.

Dalam kondisi sosial politik seperti itulah Tjokroaminoto bangkit membangun kesadaran umat untuk melawan penjajahan Belanda. Maka ia pun berseru:

Tidak bisa manoesia mendjadi oetama jang sesoenggoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia mendjadi besar dan moelia dalam arti kata jang sebenarnja, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soetji dan oetama, kalau ada banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja.

Keotamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa tertjapai karena “Tauhid” sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin: Tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja.

Ia pun mengkristalisasi ajaran Rasulullah SAW ke dalam paradigma Lima K yakni kemauan, kekuatan, kemenangan, kekuasaan, dan kemerdekaan. Cita-cita persatuannya ialah Innamal Mukminun Ihwatun dan motto juangnya adalah Billahi fi Sabilil Haq.

Tjokroaminoto memprioritaskan membangun kekuatan dari kemauan umat. Nusantara Indonesia boleh saja diduduki oleh penjajah, tetapi tidaklah berarti telah terkalahkan pula kemauan umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia. Apabila umat Islam telah bangkit kemauannya maka akan memiliki kekuatan yang tidak terhingga.

Penjajah memahami itu, bahkan merumuskan terori yang disebut dengan teori Carl von Clausewitz, On War, bahwa untuk memenangkan perang, maka yang harus diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of the enemy’s will (penghancuran kemauan lawan).

Maka dengan Sjarikat Islamnya, Tjokroaminoto berhasil membangun kemauan umat untuk melawan penjajahan Belanda. Saat ini Belanda telah pergi, namun Indonesia belum benar-benar merdeka karena masih dijajah oleh Amerika.

Lantas sekarang rakyat Indonesia maunya apa? Tunduk patuh pada Amerika atau bangkit melawan dengan menegakkan Syariah dan Khilafah?[]